BOJONEGORO - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mematok target ambisius di sektor pertanian. Pemkab berambisi menggeser dominasi Kabupaten Indramayu sebagai penghasil padi tertinggi di Indonesia pada tahun 2029 mendatang, setelah sebelumnya mengungguli Kabupaten Ngawi dan menargetkan melampaui Kabupaten Lamongan dalam waktu dekat.
Ambisi tersebut ditegaskan langsung oleh Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, saat membuka acara Gumregah Tani Bojonegoro Festival (Gutanbo Fest) 2026 yang dirangkai dengan pelantikan 28 pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) se-Kabupaten Bojonegoro periode 2026–2031 serta penyerahan ratusan alat dan mesin pertanian (alsintan) di Alun-alun Bojonegoro.
"Kita target tahun depan mengungguli Kabupaten Lamongan yang sebelumnya kita sudah mengungguli Kabupaten Ngawi. Kemudian tahun 2029 diatas Kabupaten Indramayu yang menjadi salah satu penghasil padi tertinggi di Indonesia," kata Setyo Wahono.
Untuk mencapai target besar tersebut, Setyo Wahono membeberkan tiga kunci utama yang harus dipacu secara beriringan, yakni ketersediaan air, pupuk, dan pemanfaatan teknologi. Pemkab Bojonegoro kini mendorong pembangunan embung, optimalisasi jaringan irigasi, serta riset teknologi pertanian bekerja sama dengan perguruan tinggi. Selain itu, pencetakan sawah baru seluas 300 hektare siap direalisasikan dalam dua hingga tiga tahun ke depan melalui sinergi dengan pemilik lahan dan pihak Perhutani.
Langkah masif Bojonegoro ini dinilai sejalan dengan lonjakan tren produksi padi daerah yang melesat tajam. Wakil Bupati Bojonegoro yang juga Ketua DPC HKTI Kabupaten Bojonegoro, Nurul Azizah, mengungkapkan bahwa produksi padi Bojonegoro meroket dari sekitar 710.000 ton pada tahun 2025 menjadi 886.000 ton pada tahun 2026.
"Arah kebijakan makro Pak Bupati berimbas pada peningkatan pendapatan petani. Alhamdulillah kemiskinan di Bojonegoro sesuai dengan rilis data BPS bahwa selama decade tahun 2003-2026 penurunan kemiskinan ada diangka 17,43%," ujar Nurul Azizah. Jumat (16/10/2026).
Nurul menambahkan bahwa penanganan masalah mendasar petani, mulai dari ketersediaan air, pupuk, bibit, hingga kepastian harga pasca panen menjadi kunci sukses yang langsung berdampak pada kesejahteraan warga. Berdasarkan rilis BPS pada 15 Oktober 2026, kemajuan sektor pertanian ini berhasil membawa Bojonegoro resmi keluar dari daftar 11 daerah termiskin di Jawa Timur, dengan penurunan angka kemiskinan mencapai 0,80% di tahun 2026 sebagai rekor penurunan tertinggi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.
Dukungan konkret Pemkab Bojonegoro sepanjang tahun 2026 dibeberkan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani. Pihaknya telah mendistribusikan pupuk bersubsidi sebanyak 136.256,94 ton, pupuk NPK tembakau 526,925 ton, bantuan benih 609,5 ton, serta mengaver asuransi usaha tani padi hingga 17.000 hektare. Dari sisi infrastruktur, telah dibangun Jalan Usaha Tani (JUT) sepanjang 27.528 meter, saluran irigasi 1.385 meter, irigasi perpompaan di 44 titik, dan sumur bor di 92 titik.
"Tagline Gumregah Tani Bojonegoro Festival 2026 yaitu Petani Jaya, Bojonegoro Bahagia, Makmur, Membanggakan, Nyata! Karena Bojonegoro menurut sensus pertanian tahun 2023 terdapat 269.267 rumah tangga usaha pertanian yang Dimana dalam 1 rumah tangga usaha pertanian ini ada 3 orang, maka sekitar 800.000-an orang bergantung pada sektor pertanian," papar Zaenal Fanani.
Penguatan struktur dan komitmen penunjang pertanian Bojonegoro ini mendapat apresiasi penuh dari DPD HKTI Jawa Timur melalui Bendahara DPD HKTI Jawa Timur, Budi, yang menghadiri pengukuhan struktur organisasi hingga tingkat kecamatan tersebut.
"Atas nama pimpinan DPD HKTI Jawa Timur, kami mengucapkan selamat atas pelantikan 28 PAC se-Kabupaten Bojonegoro. Semoga semakin nyata dalam mewujudkan petani yang makmur," pungkas Budi.
(Ar/ss)