BOJONEGORO - Ada yang berbeda dan menarik dalam prosesi pengambilan Api Abadi Kayangan Api pada peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349. Jika pada tahun sebelumnya api abadi langsung diboyong menuju Pendopo Pemkab Bojonegoro, kali ini rombongan kirab mengambil rute memutar yang melintasi Kecamatan Kalitidu hingga Trucuk sebelum sampai ke pusat pemerintahan.
Prosesi adat yang dipusatkan di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro tersebut berlangsung khidmat dan langsung menyedot perhatian ribuan warga. Rangkaian ritual diawali dengan penyambutan tim pengambilan api oleh pertunjukan seni tradisional, mulai dari Cucuk Lampah, Tim Rontek, Juru Kunci, hingga suguhan tarian dari para Waranggono.
Penghormatan simbolis dibuka dengan pengalungan bunga melati kepada Camat Ngasem. Selanjutnya, rombongan yang terdiri dari Camat Ngasem, Forkopimcam, dan Kepala Desa Sendangharjo melangkah menuju area Sumur Api dengan diiringi para Kange Yune, tumpeng robyong, serta sesaji. Setelah prosesi ritual dan tarian mengiringi, api abadi kemudian diserahkan oleh juru kunci kepada Kepala Desa Sendangharjo untuk diserahkan kembali kepada Camat Ngasem.
Camat Ngasem, Kasmari, mengungkapkan bahwa perubahan rute kirab tahun ini sengaja dihadirkan untuk memberikan nuansa baru sekaligus menyapa warga lebih luas.
"Kalau tahun lalu pengambilan Api Abadi dari Kayangan Api dikirab menuju Pendopo Pemkab Bojonegoro, tahun ini konsepnya berbeda. Api Abadi terlebih dahulu dikirab dari Kayangan Api menuju Kecamatan Kalitidu. Selanjutnya dibawa kirab kembali ke Kecamatan Trucuk dan terakhir menuju Pendopo Malowopati Pemkab Bojonegoro," kata Kasmari di lokasi acara, Minggu (18/10/2026).
Melalui momen bersejarah ini, Kasmari menaruh harapan besar bagi kemajuan daerah dan peningkatan taraf hidup warga Bojonegoro.
"Harapannya, di Hari Jadi Bojonegoro ke-349 ini, mudah-mudahan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bisa terus menyejahterakan masyarakat," tutur Kasmari.
Antusiasme luar biasa juga ditunjukkan oleh para pengunjung yang memadati kawasan Kayangan Api. Salah satu warga asal Kecamatan Kedungadem, Siti Laelatul, mengaku rela menempuh perjalanan jauh bersama suami dan anaknya demi menyaksikan langsung tradisi langka tersebut dari dekat. Bagi Siti, menyaksikan prosesi ini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana edukasi bagi sang buah hati agar mengenal akar budayanya.
"Tradisi seperti ini tidak hanya menarik untuk disaksikan, tetapi juga memiliki nilai edukasi bagi generasi muda, khususnya anak-anak, agar lebih mengenal dan menghargai warisan budaya leluhur," ujar Siti di sela-sela kemeriahan acara.
Siti juga menilai bahwa rangkaian prosesi pengambilan Api Abadi hingga pelaksanaan kirab mampu menjadi sarana pembelajaran langsung bagi anak-anak tentang betapa pentingnya menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun di tanah kelahiran mereka.
Destinasi Kayangan Api sendiri memang terkenal sebagai ikon wisata budaya Bojonegoro berkat fenomena geologi api alami yang tak pernah padam dan syarat akan nilai sejarah serta cerita rakyat. Pada peringatan HJB ke-349 tahun 2026 ini, Pemkab Bojonegoro mengusung tema "Berdaya Saing dan Bertransformasi Menuju Bojonegoro Adil dan Makmur" sebagai pemecut semangat pembangunan daerah yang tetap berakar kuat pada nilai kearifan lokal.
(ar/ss)