TUBAN — Ritual rebutan tumpeng di Klenteng Kwan Sing Bio, bukan sekadar ajang berburu makanan bagi ratusan warga. Di balik keriuhan antrean yang mengular sejak pukul 10.30 WIB, tradisi Sembahyang King Ho Ping ini menyimpan filosofi mendalam tentang welas asih lintas batas bagi arwah-arwah yang terlantar.
Nuansa khidmat itu tampak mendominasi sebelum ribuan pasang mata menyaksikan perebutan 750 tumpeng berkah. Rangkaian ritual yang melibatkan umat Tri Dharma dari berbagai daerah ini sejatinya telah bergulir selama satu bulan penuh sejak 27 Agustus 2026, mengikuti ketetapan penanggalan bulan ketujuh Imlek.
Panitia Sembahyang King Ho Ping Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, Tio Eng Bo, menegaskan bahwa inti dari tradisi tahunan ini adalah bentuk kepedulian universal kepada mereka yang telah tiada namun luput dari ritual keluarga.
"Sembahyang ini khusus untuk mendoakan arwah yang tidak disembahyangkan di rumah. Kita kasih makan dan kita doakan. Ini bentuk kepedulian, sekaligus simbol doa dan harapan," ujar Eng Bo di lokasi klenteng. (3/9/2026).
Ia menambahkan, meski rangkaian pendoaan berlangsung sebulan penuh, penentuan hari puncak perayaan di setiap tempat ibadah memiliki jadwal berbeda yang disesuaikan dengan petunjuk dewa utama. Sebagai contoh, Klenteng Tjoe Ling Kiong Tuban menggelar puncaknya pada 30 Agustus 2026, sementara Klenteng Kwan Sing Bio menyusul pada hari ini.
Tepat pukul 11.00 WIB, umat Tri Dharma memulai ibadah dan doa bersama secara khusyuk. Selepas prosesi spiritual tersebut selesai, suasana mendadak cair tatkala panitia mulai mendistribusikan total 750 tumpeng kepada masyarakat yang sudah lama bersiaga di sekitar area klenteng.
Warga Gang Sumur Srumbung, Kelurahan Sidomulyo, Tuban, Agus, menjadi salah satu dari ratusan orang yang merasakan langsung berkah tersebut. Meski harus menunggu sejak pagi buta, rasa lelahnya terbayar lunas saat membawa pulang tumpeng untuk keluarganya.
"Iya, antre dari pagi. Alhamdulillah dapat tumpeng, ini semacam nasi berkat buat keluarga di rumah," tutur Agus penuh antusias.
Daya tarik ritual ini terbukti melampaui batas wilayah Kabupaten Tuban. Umat Tri Dharma dari luar kota tampak berbondong-bondong datang untuk memanjatkan doa bersama. Salah satunya datang dari rombongan Klenteng Hok Swie Bio Bojonegoro yang dipimpin oleh April. Bagi mereka, perjalanan jauh ke Tuban ini diniatkan sebagai wujud bakti spiritual yang sarat makna.
"Sembahyang King Ho Ping ini adalah wujud rasa syukur kita kepada Tuhan, sekaligus penghormatan setinggi-tingginya kepada para leluhur," pungkas April.
(ar/ss)