BOJONEGORO – Musim penghujan membawa berkah tersendiri bagi warga di sekitar hutan jati Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro. Setiap pagi, kawasan hutan jati di pinggiran permukiman ramai didatangi warga yang berburu jamur barat, komoditas musiman yang kini menjadi hiburan sekaligus sumber tambahan penghasilan.

Aktivitas ini dilakukan oleh berbagai kalangan, mulai anak-anak, remaja, hingga kaum ibu. Mereka menyusuri hutan sejak dini hari, bahkan ada yang berangkat sebelum subuh, demi mendapatkan jamur yang hanya tumbuh alami di bawah pohon jati saat kondisi lembap.

Salah satu pencari jamur, Fauzi (30), mengatakan berburu jamur barat memberikan kepuasan tersendiri meski tidak selalu membuahkan hasil. Menurutnya, jamur barat termasuk sulit ditemukan karena tidak tumbuh di sembarang tempat.

"Pagi hari sehabis subuh. Ada juga yg memulai cari jamur barat pukul 2 dini hari," ucap Fauzi kepada suarasatu.com. Senin (5/1/2026).

Fauzi mengungkapkan, tidak semua warga memahami lokasi dan waktu tumbuh jamur barat. Pengetahuan tersebut biasanya diperoleh dari pengalaman dan diwariskan secara turun-temurun.

"Kalau tidak paham tempat dan waktunya, pasti sulit ketemu ya. Biasanya, warga masuk hutan sejak pagi hari, menyusuri area yang dianggap langganan tumbuhnya jamur barat," imbuhnya.

Jamur barat hanya tumbuh di titik-titik tertentu yang masih alami dan lembap. Proses pencariannya membutuhkan ketelitian serta kesabaran. Tak jarang, pencari jamur harus pulang dengan tangan kosong meski sudah berjam-jam menyusuri hutan.

Hal senada disampaikan Sholikin, warga Temayang lainnya. Ia menyebut, hasil satu kilogram jamur sudah tergolong baik bagi pencari jamur.

"Dapat 1 kg, itu sudah terbilang lumayan. Karena ada juga beberapa pencari jamur pulang dengan tangan kosong," ucap Sholikin.

Jamur hasil buruan warga sebagian besar diolah sendiri menjadi menu khas oseng-oseng jamur barat. Namun, ada pula yang memilih menjualnya kepada warga lain yang menyukai jamur musiman tersebut.

"Ada yang berburu untuk di buat oseng oseng. Tapi ada pula mereka yang menjual jamur ini per bungkus dengan rata rata isi 10 tangkai dijual 20 ribu," imbuhnya.

Dari sisi rasa, jamur barat dikenal memiliki cita rasa khas yang gurih dan alami. Tak sedikit penggemar kuliner yang menilai kelezatannya mampu menyaingi olahan daging.

"Yang pasti tak sekedar rasa yang alami ya, bahkan lezatnya mampu mengalahkan daging," tutur Sholikin.

Tradisi berburu jamur barat tidak hanya menjadi aktivitas kuliner musiman, tetapi juga mencerminkan kedekatan masyarakat Temayang dengan alam. Kegiatan ini sekaligus menjaga kearifan lokal dan mengajarkan pentingnya memahami serta menghargai siklus alam yang terus berulang setiap tahun. (sam)