BOJONEGORO - Suara gemertak kayu terbakar (krotok-krotok) memecah keheningan Dusun Sratu, Desa Sraturejo, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, saat pemadaman listrik melanda pada Sabtu (20/6/2026) malam sekira pukul 19.11 WIB. Marjoko (36), warga setempat yang panik mendengar suara tersebut, langsung berlari keluar rumah dan mendapati kobaran api sudah membesar dari dalam rumah tetangganya, Sukiran (70). Rumah kayu milik lansia tersebut terbakar hebat dalam kondisi kosong karena ditinggal pemiliknya pergi membeli lilin ke toko kelontong.

​Saksi mata sekaligus tetangga korban, Marjoko, menceritakan kepanikannya saat pertama kali melihat kobaran api yang dengan cepat melahap dinding bangunan. "Saya mendengar suara krotok-krotok seperti kayu terbakar dari sebelah. Begitu saya keluar rumah, api sudah membesar di dalam rumah Pak Sukiran. Saya sempat mencoba mendobrak pintu rumahnya untuk menyiram air, tapi tidak bisa karena terkunci rapat dari luar. Akhirnya saya berteriak sekencang-kencangnya minta tolong ke warga," kata Marjoko.

​Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berhamburan keluar untuk mencoba memadamkan api dengan alat seadanya. Di saat yang sama, saksi lain bernama Basuki Rohmat (39), mengungkap obrolan terakhirnya bersama korban di toko kelontong sesaat sebelum mereka menyadari rumah tersebut hangus dilalap si jago merah.

​"Di toko itu saya ketemu Pak Sukiran, sama-sama mau beli lilin karena mati lampu. Pak Sukiran sempat cerita ke saya, katanya sebelum berangkat ke toko, dia membuat penerangan sementara di dalam rumah pakai sandal karet bekas yang dibakar biar tidak gelap gulita. Selang beberapa menit setelah ngobrol itu, kami dengar teriakan warga kalau rumahnya sudah kebakaran," ungkap Basuki.

​Melihat api yang terus membesar, perangkat desa setempat (Bayan), Nur Kholis (42), langsung menghubungi petugas Polsek Baureno dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Bojonegoro. Kapolsek Baureno AKP Sholeh menegaskan bahwa berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan saksi-saksi, titik api murni dipicu oleh kelalaian sarana penerangan alternatif saat mati lampu.

​"Saat peristiwa kebakaran terjadi, kondisi wilayah setempat memang sedang padam listrik secara total. Berdasarkan pemeriksaan di TKP, diduga kuat titik awal api bersumber dari sandal karet yang sengaja dibakar oleh korban untuk dijadikan cahaya penerangan sementara. Karena ditinggal dalam kondisi rumah kosong, api merembet ke dinding rumah yang materialnya terbuat dari kayu. Korban mengalami kerugian materiil sekitar Rp 100 juta, namun kami pastikan korban jiwa maupun luka nihil," jelas AKP Sholeh.

Petugas Polsek Boureno Olah TKP kebakaran rumah warga saat listrik Pemadaman

​Proses pemadaman sendiri melibatkan kerja keras tim gabungan. Kepala Dinas Damkarmat Pemkab Bojonegoro, Siswoyo, menjelaskan tantangan jarak yang dihadapi petugas di lapangan serta total kerugian yang berhasil diselamatkan dari amukan si jago merah malam itu.

​"Laporan masuk ke pos kami pukul 19.14 WIB. Personel sempat terkendala posisi jarak sejauh 15,8 km karena unit terdekat di Pos Baureno saat itu sedang melakukan operasi evakuasi sarang tawon di wilayah Pilang, Kanor. Kami langsung mengerahkan bantuan total 4 unit fire truck gabungan dari Pos Baureno, Pos Kota, dan Pos Kedungadem dengan total 14 personel. Alhamdulillah, berkat lokalisir cepat bersama Polsek, Koramil, Satpol PP, dan warga, api berhasil dipadamkan total pukul 20.50 WIB. Kami juga berhasil menyelamatkan dua aset rumah di kanan-kirinya milik Pak Marjoko dan Pak Pasirin dengan nilai taksiran Rp 320 juta," pungkas Siswoyo.