BOJONEGORO - Aroma khas bulan suci Ramadan mulai terasa di sudut-sudut kampung Kabupaten Bojonegoro. Salah satunya di Pasar Sumberejo, pemandangan kuning kehijauan dari tumpukan janur pohon kelapa kini mendominasi lapak pedagang, menandai dimulainya tradisi tahunan masyarakat setempat dalam menyambut bulan puasa, Sabtu (31/01/2026).
Bagi warga Bojonegoro, menyajikan lontong dan ketupat sebelum memasuki hari pertama puasa bukan sekadar perkara menu makanan. Ini adalah simbol keguyuban dan syukur yang diwariskan secara turun-temurun. Tak heran, permintaan janur pun melonjak drastis.
Fenomena ini membawa angin segar bagi para pedagang musiman. Sebagian besar pasokan janur didatangkan langsung dari wilayah Lumajang untuk memenuhi kebutuhan warga.
Yati, salah satu pedagang janur di Pasar Sumberejo, mengaku sudah menggelar lapaknya sejak beberapa hari lalu. Ia merasakan antusiasme warga yang luar biasa meski situasi pasar tetap kondusif.
"Alhamdulillah pasar ramai apalagi menjelang ramadan, ini sudah pada sibuk beli janur dan ketupat untuk megengan" ucap pedagang janur, Yati. Sabtu (31/1/2026).
Bagi masyarakat yang ingin berburu janur di pasaran, tersedia dua pilihan praktis. Mualimah, seorang penjual sekaligus pembuat cangkang ketupat, menjelaskan bahwa harga yang ditawarkan sangat terjangkau bagi kantong ibu rumah tangga, untuk janur mentah Rp3.000 per ikat (10 lembar) dan untuk cangkang ketupat dibandrol Rp5.000 per ikat (isi 10 buah).
"Kalau janur 3.000 per ikat, lebih murah daripada cangkang ketupat yang dijual harga 5.000 per ikat. Alhamdulilah sudah banyak yang beli hari ini," ujar Muslimah.
Harga yang ekonomis ini menjadi alasan warga tetap memilih membuat ketupat sendiri di rumah. Siti, salah satu pembeli, merasa terbantu dengan stabilnya harga janur tahun ini.
"Untung harganya masih murah mas. Sisa uang belanjaannya bisa buat beli bumbu opor sama daging. Kalau bikin sendiri memang jauh lebih hemat," tutur Siti.
Tradisi lontong ketupat di Bojonegoro ini menjadi tanda bahwa Ramadan telah di depan mata. Keramaian di Pasar Sumberejo bukan sekadar transaksi jual beli, melainkan potret kehangatan masyarakat dalam menjaga warisan budaya dan menyambut bulan yang penuh ampunan dengan suka cita. (hil)