BOJONEGORO – Momentum bulan suci Ramadan 2026 kembali menghadirkan berkah melimpah bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Bojonegoro.

Salah satu titik geliat ekonomi yang paling menonjol terlihat di Griya Camilan, sebuah rumah produksi jajanan tradisional yang terletak strategis di Jalan Sunan Kalijaga Nomor 85, Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro Kota.

Di tempat ini, kue gapit yang merupakan kudapan legendaris khas nusantara, mengalami lonjakan permintaan yang luar biasa seiring dengan tradisi masyarakat yang menjadikannya hidangan wajib saat Idulfitri maupun sebagai camilan berbuka puasa.

​Secara teknis, peningkatan produksi di Griya Camilan tercatat cukup signifikan guna mengimbangi etalase pesanan yang terus menumpuk. Jika pada hari-hari biasa rumah produksi ini hanya mengolah sekitar 12 kilogram gapit gulung per hari, kini kapasitasnya dipacu hingga mencapai 16 kilogram per hari.

Hal serupa juga terjadi pada varian gapit dolar atau rasa asin, yang produksinya merangkak naik dari 3 kilogram menjadi 4 kilogram per hari. Safila Nur Auliya, pemilik usaha yang akrab disapa Afi, menjelaskan bahwa langkah ekstra ini diambil demi menjamin ketersediaan stok bagi pelanggan setianya.

“Kalau Ramadan memang pesanan naik. Banyak yang beli untuk camilan berbuka dan juga untuk persiapan Lebaran,” ungkap Afi kepada suarasatu.com. Rabu (25/2/2026).

Usaha yang dijalankan Afi menunjukkan performa yang sangat impresif dengan cakupan pasar yang tidak lagi terbatas pada wilayah lokal Bojonegoro saja.

Proses Produksi Gapit di Griya Camilan

Kelezatan kue gapit produksinya telah merambah kota-kota besar seperti Surabaya hingga Yogyakarta. Dengan banderol harga Rp85.000 per kilogram untuk jenis gapit gulung dan Rp80.000 per kilogram untuk gapit dolar (asin),.

Akumulasi omzet yang diraih Griya Camilan selama bulan Ramadan ini diproyeksikan mampu menyentuh angka fantastis, yakni Rp35 juta. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa jajanan tradisional tetap memiliki daya tarik tinggi di tengah gempuran camilan modern.

​Namun, di balik angka penjualan yang menggiurkan, terdapat proses produksi yang menuntut ketelitian tingkat tinggi.

Afi menegaskan bahwa setiap keping kue gapit yang dihasilkan merupakan buah dari kesabaran dan teknik memasak yang tepat.

“Membuat gapit itu tidak sulit, tapi juga tidak mudah. Harus fokus supaya tidak gosong,” tambah Afi.

Fokus ini sangat perlu karena suhu cetakan dan durasi pemanggangan akan sangat menentukan tekstur renyah dan warna kuning keemasan yang menjadi ciri khas produknya.

​Meskipun harus bekerja ekstra keras di bawah tekanan pesanan yang membludak, Afi berkomitmen untuk tidak sekali pun mengorbankan kualitas rasa maupun tingkat kematangan kue demi mengejar kuantitas.

Baginya, kepuasan pelanggan adalah investasi jangka panjang yang paling berharga. Menutup perbincangannya, Afi menyampaikan visi besar untuk masa depan bisnisnya.

" Aku berharap momentum Ramadan ini tidak hanya mendongkrak penjualan sementara, tetapi juga mampu menarik pelanggan baru dan memperluas pasar usahanya ke lebih banyak daerah,” tandasnya penuh optimisme. (Ar)