BOJONEGORO – Upaya meningkatkan literasi politik di kalangan pemuda kembali dilakukan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Bojonegoro melalui agenda Sosialisasi Pengawasan Partisipatif bagi Pemilih Pemula. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa, 25 November 2025, dan menyasar siswa kelas XII SMK Negeri 5 Bojonegoro dari berbagai program keahlian.
Sejak awal acara, para peserta terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Ruang sosialisasi dipenuhi para pelajar yang ingin memahami lebih jauh mengenai sistem demokrasi dan pentingnya keterlibatan pemilih pemula.
Wakil Kepala Humas SMKN 5 Bojonegoro, Burhanudin, menegaskan bahwa pendidikan politik merupakan bagian penting untuk dipahami siswa menjelang usia memilih. Ia menekankan pentingnya kesadaran pelajar terhadap hak politik yang akan mereka gunakan pada pemilu mendatang.
“Pelajar kelas XII adalah calon pemilih baru yang akan ikut menentukan masa depan daerah dan bangsa. Karena itu, pemahaman tentang pengawasan pemilu harus diberikan sejak sekarang,” ujar Burhanudin.
Sesi materi disampaikan oleh Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Bawaslu Bojonegoro, Muhammad Muchid, dalam paparannya ia mengajak siswa melihat pemilu sebagai proses bersama yang membutuhkan kontribusi masyarakat, termasuk generasi muda yang baru pertama kali memilih.
Muchid menyebutkan bahwa anak muda memiliki kapasitas besar untuk ikut serta mengawasi proses pemilu, terlebih karena karakter mereka yang kritis serta dekat dengan teknologi informasi.
“Pemilih pemula memiliki peran besar dalam mengawasi proses pemilu. Partisipasi kalian sangat dibutuhkan agar pemilu berjalan jujur, adil, dan bebas dari pelanggaran,” kata Muchid.
Ia juga menguraikan sejumlah aspek penting dalam penyelenggaraan pemilu, mulai dari dasar hukum, peran pemilih, hingga tugas penyelenggara pemilu. Para peserta juga diberi pemahaman mengenai kewenangan Bawaslu dalam mengawasi setiap tahapan, melakukan pencegahan, serta menangani pelanggaran ketika ada indikasi penyimpangan.
Tak hanya teori, siswa turut diperkenalkan pada praktik pengawasan partisipatif yang bisa dilakukan masyarakat luas, seperti memastikan keakuratan data pemilih atau melaporkan dugaan pelanggaran. Langkah sederhana ini, menurut Muchid, mampu memberi kontribusi besar terhadap kualitas pemilu.
Sesi diskusi berlangsung dinamis. Para pelajar memberikan berbagai pertanyaan seputar tugas Bawaslu, potensi pelanggaran saat kampanye, hingga fenomena politik uang dan penyalahgunaan media sosial. Antusiasme tersebut menandakan tingginya rasa ingin tahu pelajar mengenai proses demokrasi.
Melalui kegiatan ini, Bawaslu Bojonegoro berharap generasi muda tidak hanya hadir sebagai pemilih yang menggunakan hak pilihnya, tetapi juga menjadi bagian dari pengawasan partisipatif yang mampu menjaga integritas pemilu.
Sosialisasi tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kepekaan politik sejak dini, sehingga para pelajar mampu mengambil peran aktif dalam menjaga nilai-nilai demokrasi di lingkungan sekolah maupun masyarakat. (sam)