BOJONEGORO - Alun-Alun Bojonegoro mendadak "diserbu" ribuan warga hingga pelancong dari luar daerah sejak Rabu lalu. Mereka rela berdesakan demi berburu lembaran kain batik tulis asli dalam gelaran Bojonegoro Wastra Batik Festival (BWBF) 2026. Gelaran tahunan yang mengusung tema "Wastrane Bojonegoro Membumi lan Ngamboro ing Bawono" ini sukses menyulap pusat kota menjadi panggung budaya sekaligus ladang omzet bagi para pelaku UMKM.
Festival yang berlangsung selama empat hari, mulai 17 hingga 20 Juni 2026, memamerkan keindahan motif khas Bojonegoro sekaligus magnet bagi perajin wilayah tetangga, seperti Tuban. Hiruk-pikuk transaksi dan decak kagum pengunjung terhadap detail batik tulis tangan terus menggema hingga malam hari.
Satu di antara stan yang paling diserbu ibu-ibu adalah milik Mbak Tiah, perajin batik tradisional asal Tuban. Ia mengaku bersyukur lantaran karyanya disambut hangat oleh masyarakat Bojonegoro hingga membuat omzet penjualannya melesat tajam.
"Alhamdulillah, antusiasme warga Bojonegoro luar biasa sekali mas. Sejak hari pertama stan dibuka, penikmat batik klasik langsung berdatangan. Acara seperti BWBF 2026 ini benar-benar membantu kami, perajin tetangga, untuk memperluas pasar. Omzet kami naik tajam di sini," ujar Tiah di lokasi pameran.
Tak hanya perajin yang semringah, para pemburu wastra nusantara pun merasa terpuaskan. Zulfa (21), seorang pengunjung asal Sumberrejo, tampak sibuk mencocokkan lembaran kain batik motif Gringsing ke bahunya. Ia mengaku sengaja datang setelah mengetahui informasi festival ini dari media sosial.
"Saya tahu acara ini dari media sosial dan sengaja menyempatkan datang. Dan ternyata enggak rugi sama sekali, Batiknya bagus-bagus banget. Harganya sangat worth it (layak) untuk kualitas batik tulis tangan asli, bukan printing. Menurut saya, festival ini wajib diadakan terus setiap tahun karena kita bisa langsung berinteraksi dan mengapresiasi perajinnya langsung," kata Zulfa dengan wajah sumringah.
Perputaran uang di stan-stan kuliner dan kerajinan pun dilaporkan melonjak drastis selama acara berlangsung. Upaya mendorong eksistensi batik ini sejalan dengan pesan Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin. Saat membuka acara, Arumi menekankan pentingnya menjadikan batik bukan sekadar kain, melainkan warisan jiwa yang harus terus dijaga dan didorong agar mampu bersaing di pasar global serta menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
Bagi Anda pencinta kain tradisional yang tidak ingin ketinggalan momentum ini, Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026 masih akan berlangsung hingga Sabtu (20/6/2026). Melipir ke Alun-Alun Bojonegoro akhir pekan ini bisa menjadi pilihan agenda yang tepat. (hil)