BOJONEGORO – Masa panen raya yang seharusnya menjadi momentum keuntungan bagi petani justru memunculkan persoalan di Kabupaten Bojonegoro. Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani dilaporkan masih berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram.

Di sejumlah wilayah, gabah petani hanya terjual di kisaran Rp6.000 hingga Rp6.200 per kilogram. Kondisi ini membuat sebagian petani terpaksa melepas hasil panennya dengan harga di bawah acuan pemerintah.

Satam, petani asal Kecamatan Kalitidu, mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain menjual gabah sesuai harga yang ditawarkan tengkulak.

“Gabah kemarin laku Rp6.000 per kilo. Tapi alhamdulillah masih ada untung,” ujar Satam, Kamis (12/3/2026).

Hal serupa disampaikan Guntari, petani asal Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu. Ia menyebut harga gabah pada musim panen raya tahun ini berkisar antara Rp6.000 hingga Rp6.200 per kilogram.

Meski masih di bawah HPP, menurutnya harga tersebut relatif lebih baik dibandingkan tahun lalu yang sempat turun di bawah Rp6.000 per kilogram. Dari hasil panen sekitar dua ton padi, sebagian dijual dan sebagian lainnya disimpan untuk kebutuhan konsumsi keluarga.

“Alhamdulillah tahun ini harganya lumayan stabil. Sebagian saya jual, sebagian lagi disimpan untuk makan keluarga,” tuturnya.

Di sisi lain, kondisi berbeda justru terjadi di tingkat pengepul. Salah satu tengkulak gabah di Bojonegoro, Prapto, mengungkapkan harga gabah yang disetorkan ke gudang Bulog saat ini justru berada di atas HPP.

Menurutnya, gabah kering panen yang dijual ke gudang Bulog diterima dengan harga Rp6.800 hingga Rp6.900 per kilogram.

“Gabah kering tahun ini saya setor ke gudang diterima Rp6.800 sampai Rp6.900 per kilo. Tahun lalu mentok di Rp6.500, bahkan kadang turun sampai Rp6.200,” kata Prapto.

Ia menjelaskan, gabah tersebut dibeli dari sejumlah desa di Kecamatan Tambakrejo seperti Desa Malingmati, Turi, Kalisumber hingga Gamongan dengan harga Rp6.100 hingga Rp6.300 per kilogram. Harga tersebut sudah termasuk potongan biaya panen menggunakan mesin combine harvester.

“Harga itu sudah termasuk dipotong biaya kombi,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono memastikan akan menindaklanjuti laporan terkait dugaan pembelian gabah petani di bawah HPP.

“Terima kasih informasinya, akan kami cek,” ujar Wahono singkat. (Ar)