BOJONEGORO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) terus berupaya mendongkrak perekonomian masyarakat sekaligus menjaga kelestarian alam. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan mendorong produktivitas petani alpukat di wilayah setempat.

​Kepala DKPP Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp145 juta pada tahun 2025. Dana tersebut khusus digunakan untuk pengadaan bibit alpukat berkualitas yang akan dibagikan kepada kelompok tani.

​"DKPP Bojonegoro telah menganggarkan Rp145 juta guna pengadaan bibit alpukat pada 2025, supaya ditanam kelompok tani untuk meningkatkan perekonomian masyarakat," ujar Zaenal di Bojonegoro, Rabu (15/4/2026).

​Bantuan bibit ini menyasar sejumlah desa di beberapa kecamatan di Bojonegoro,diantaranya Kecamatan Dander: Desa Dander (800 batang). Kecamatan Temayang: Desa Soko (250 batang) dan Desa Sumber Bendo (120 batang).

​Kecamatan Margomulyo: Desa Margomulyo (150 batang) dan Desa Geneng (100 batang). Kecamatan Sekar: Desa Klino (100 batang). Kecamatan Gondang: Desa Pajeng (40 batang). Kecamatan Dander: Desa Ngraseh (100 batang).

​Zaenal menjelaskan, jenis alpukat yang dipilih adalah varietas Miki dan Siger. Alasan pemilihannya cukup praktis, masa tunggu panen yang relatif singkat.

​"Tanaman tersebut sekitar tiga tahun sudah menghasilkan buah," jelasnya.

​Berdasarkan perhitungan teknis, budidaya alpukat ini sangat menjanjikan bagi kantong petani. Setelah memasuki masa produktif (usia 3 tahun), satu pohon alpukat diprediksi mampu menghasilkan sekitar 100 kilogram buah per tahun.

​Dengan estimasi harga pasar Rp20 ribu perkilogram, maka setiap pohon bisa menyumbang pendapatan sebesar Rp2 juta per tahun. Bayangkan jika satu kelompok tani mengelola ratusan pohon, tentu dampaknya akan sangat signifikan bagi kesejahteraan warga.

​Tak hanya soal urusan perut, penanaman massal ini juga memiliki misi ekologis. Wilayah selatan Bojonegoro yang kerap didera banjir diharapkan bisa terbantu dengan adanya gerakan konservasi vegetatif ini.

​"Penanaman pohon alpukat tersebut juga sebagai gerakan konservasi alam agar banjir yang sering terjadi di bagian selatan Bojonegoro bisa segera teratasi, serta muncul mata air baru," tambah Zaenal.

​Ke depan, Pemkab memproyeksikan kawasan hutan ini tidak hanya sekadar menjadi paru-paru daerah, tetapi juga bertransformasi menjadi destinasi agrowisata yang mampu menarik wisatawan.

​Agar program ini tidak sekadar tanam lalu ditinggal, DKPP juga menerjunkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk memberikan pelatihan intensif kepada kelompok tani penerima manfaat.

​"PPL akan memastikan penerima betul-betul merawat bibit yang sudah diberikan dan memberikan dampak buat daerah sekitarnya," pungkasnya.

(ain)