BOJONEGORO – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bojonegoro angkat bicara terkait video kondisi gedung sekolah yang viral di media sosial. Video ini memperlihatkan ruang belajar yang dianggap tidak layak.

Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Bojonegoro, Sholihul Hadi, membenarkan bahwa bangunan dalam video tersebut merupakan MI Silahul Muslimin, lembaga pendidikan di bawah Yayasan Subulul Huda yang berlokasi di Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo.

"Iya benar, itu bangunan sekolah MI Silahul Muslimin, yang berada di bawah Yayasan Subulul Huda di Desa Napis Kecamatan Tambakrejo," ujar Sholihul Hadi kepada suarasatu.com.

Sholihul menjelaskan bahwa keberadaan Gedung MI ini berawal dari kebutuhan masyarakat setempat yang kesulitan mengakses sekolah akibat kondisi jalan yang becek dan sulit dilalui. Awalnya hanya terdapat Madrasah Diniyah (Madin), kemudian warga menghendaki adanya lembaga RA, dan akhirnya sekolah dasar berbasis madrasah (MI) pun didirikan.

"Itu kan asalnya Madin terus kemudian mau sekolah jalannya susah, jembek (becek), jadi mereka yang ada di sana pengen ada sekolah di RA. Terus setelah ada RA, orang-orang di sana pengen melanjutkan sekolah di situ dan berdirilah MI," jelas Sholihul.

Terkait fasilitas yang tampak memprihatinkan dalam video, Sholihul menegaskan bahwa sebenarnya MI Silahul Muslimin telah memiliki sarana prasarana gedung kelas dan kantor yang layak, namun berada di lokasi lain.

"Sebenarnya MI itu sudah punya sarpras yang layak, ada satu gedung kelas dan satu gedung kantor tapi lokasinya berbeda," tegas Sholihul.

Kemenag Bojonegoro memastikan akan mengusulkan bantuan sarana prasarana melalui aplikasi EMIS (Education Management Information System). Meski begitu, keputusan akhir tetap berada di Kemenag Pusat.

"Kalau usul sarpras akan diusulkan ke Kemenag Pusat melalui aplikasi EMIS, namun nantinya dapat atau tidak itu tergantung pusat," pungkasnya.

Saat ini terdapat 35 siswa-siswi yang mengikuti kegiatan belajar di bangunan darurat. Rinciannya, kelas 1 sebanyak 18 siswa, kelas 2 lima siswa, kelas 3 tidak ada siswa, kelas 4 enam siswa, kelas 5 enam siswa, dan kelas 6 juga tanpa siswa. (hil/sam)