BOJONEGORO — Puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Bojonegoro melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Program ini menjadi bagian dari pengabdian masyarakat sekaligus upaya mendorong desa yang mandiri dan berkelanjutan berbasis potensi lokal.
Mahasiswa peserta KKN berasal dari empat program studi, yakni Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok dan akan ditempatkan di tiga desa, yaitu Desa Sumberagung, Tlogorejo, dan Sumberoto.
Kegiatan KKN dijadwalkan berlangsung selama satu bulan dengan mengusung tema “Penguatan Ketahanan Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Berbasis Potensi Lokal Menuju Desa yang Mandiri, Religius, dan Berkelanjutan.” Tema tersebut menekankan bahwa program KKN tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diarahkan pada pemberdayaan masyarakat sesuai kebutuhan dan potensi desa.
Penerimaan resmi mahasiswa KKN digelar di Pendopo Kecamatan Kepohbaru, Selasa (13/1/2026). Camat Kepohbaru Triguno Sudjono Prio, S.STP., M.M., menerima langsung rombongan mahasiswa bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), yang terdiri dari Kapolsek dan Danramil Kepohbaru, serta pimpinan STIT Muhammadiyah Bojonegoro.
Dalam sambutannya, Triguno mendorong mahasiswa untuk berperan aktif sebagai agen perubahan di desa. Ia meminta mahasiswa berani menyampaikan ide dan inovasi kepada pemerintah desa selama pelaksanaan KKN.
“Kalau punya ide, silakan disampaikan ke kepala desa. Kehadiran mahasiswa diharapkan bisa membantu desa menemukan solusi atas persoalan yang ada. Inovasi sangat dibutuhkan karena pembangunan desa bertumpu pada kualitas sumber daya manusia,” kata Triguno.
Triguno juga mengingatkan mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan kondisi sosial masyarakat setempat. Menurutnya, setiap desa memiliki karakter dan dinamika yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang tepat.
“Jika menemui kendala, koordinasikan dengan kepala desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, atau pihak kecamatan. Kunci keberhasilan KKN adalah komunikasi dan kerja sama yang baik,” ujarnya.
Ketua STIT Muhammadiyah Bojonegoro, Dr. Ibnu Habibi, M.Pd., menyebut KKN sebagai bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa. Menurutnya, KKN menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kepekaan sosial sekaligus kemampuan kepemimpinan.
“Melalui KKN, mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu dari bangku kuliah, tetapi juga belajar membangun empati sosial, kepemimpinan, dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Pengalaman ini diharapkan membentuk karakter mahasiswa agar lebih peka terhadap persoalan riil di masyarakat,” kata Ibnu Habibi.
Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN, Aulia Singa Zanki, M.Si., mengatakan pemilihan Kecamatan Kepohbaru sebagai lokasi KKN didasarkan pada pertimbangan akademik dan pengalaman lapangan. Ia mengaku pernah bertugas sebagai pendamping desa di wilayah tersebut.
“Saya memahami kebutuhan, tantangan, dan potensi desa-desa di Kepohbaru. Itu yang menjadi alasan mahasiswa diarahkan KKN di sini agar program yang dijalankan lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Melalui KKN ini, mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro diharapkan mampu memberi kontribusi nyata dalam penguatan pendidikan keagamaan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta peningkatan kesadaran lingkungan, sekaligus meninggalkan dampak positif yang berkelanjutan bagi desa-desa di Kecamatan Kepohbaru.