BOJONEGORO – Memasuki musim panen raya, para petani di Kabupaten Bojonegoro justru dilanda keresahan. Pasalnya, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani mengalami penurunan drastis dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga gabah yang sebelumnya berada di kisaran Rp7.200 per kilogram, kini turun menjadi sekitar Rp6.500 per kilogram. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh para petani, salah satunya di Desa Semanding, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro.
Para petani mengaku resah lantaran anjloknya harga gabah terjadi di tengah melimpahnya hasil panen. Penurunan harga tersebut dinilai tidak sebanding dengan besarnya biaya produksi yang telah dikeluarkan, mulai dari pengolahan lahan, pemupukan, pengobatan tanaman, hingga perawatan selama masa tanam.
Salah seorang petani, Sutrisno, mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab merosotnya harga gabah pada musim panen kali ini. Menurutnya, penurunan harga terjadi secara tiba-tiba, terutama setelah pergantian tahun.
“Di tingkat petani sekarang tinggal sekitar Rp6.500 per kilogram. Padahal sebelumnya masih di kisaran Rp7.200,” ujar Sutrisno, Rabu (7/1/2026).
Ia menambahkan, kualitas panen tahun ini sebenarnya tergolong baik. Bahkan, hasil panen rata-rata mampu mencapai 8 hingga 9 ton gabah kering panen per hektare.
“Panennya bagus, hasilnya juga banyak, tapi harganya malah turun. Kami jadi merugi karena modal yang dikeluarkan cukup besar,” imbuhnya.
Atas kondisi tersebut, para petani berharap adanya perhatian dari pemerintah agar harga gabah kembali naik atau setidaknya stabil di kisaran Rp7.000 per kilogram. Dengan demikian, hasil panen yang melimpah tidak justru menjadi beban dan kerugian bagi petani. (sam)