BOJONEGORO - Suhu udara ekstrem yang menembus 38 derajat Celsius di wilayah eksplorasi minyak dan gas bumi memaksa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro mempertebal ikhtiar spiritual. Menanggapi ancaman kekeringan yang kian meluas, Pemkab menginstruksikan seluruh jajaran Aparatur Sipil Negara untuk menggelar sholat Istisqa guna memohon turunnya hujan.
Pelaksanaan ibadah berjamaah tersebut berlangsung khusyuk di Masjid Babus Shofa, Jalan Basuki Rahmad, Bojonegoro, Selasa (20/10) sekitar pukul 13.00 WIB. Sholat Istisqa dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bojonegoro, KH Alamul Huda, dan diikuti oleh jajaran jajaran pemerintah hingga warga.

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengungkapkan, melonjaknya suhu udara di kawasan migas telah memberikan dampak signifikan terhadap penurunan pasokan air bersih hingga memicu ancaman serius bagi sektor pertanian di wilayahnya.
“Di wilayah eksplorasi migas suhu mencapai 38 derajat Celsius, ini berdampak terhadap kekeringan, baik dari sektor pertanian,” kata Setyo Wahono. Selasa ( 20/10/2026)

Ia melanjutkan, fenomena cuaca ekstrem ini menuntut penanganan yang seimbang antara langkah konkret di lapangan dan pendekatan spiritual. Oleh sebab itu, munajat bersama ini digelar sebagai bentuk permohonan perlindungan dan pertolongan pertolongan Ilahi.
“Pada kesempatan ini kita bermunajat meminta hujan kepada Allah,” ujarnya.
Merujuk data perkiraan cuaca terbaru, Setyo menyebutkan bahwa potensi guyuran hujan di Bojonegoro diprediksi baru akan terjadi menjelang akhir tahun. Hal ini membuat pemerintah daerah harus bergerak cepat memetakan langkah penanggulangan kekeringan jangka pendek maupun menengah.
“Berdasarkan prediksi BMKG, hujan akan mulai turun pada akhir November atau awal Desember,” katanya.
Guna mengantisipasi dampak yang lebih meluas sebelum musim hujan tiba, Pemkab Bojonegoro juga langsung menggalakkan aksi mitigasi lingkungan. Seluruh instansi pemerintahan hingga satuan pendidikan diwajibkan untuk membangun sarana penampungan dan resapan air.
“Kita juga melakukan antisipasi terhadap kekeringan yang akan datang, salah satunya adalah membuat resapan air di setiap kantor instansi maupun sekolah di Bojonegoro,” jelasnya.
Langkah pembuatan lubang resapan air tersebut diharapkan mampu memaksimalkan penyerapan air tanah secara optimal, sekaligus memperkuat cadangan air bersih warga serta meminimalisir risiko limpasan air permukaan saat curah hujan kembali normal. (ar/ss)