BOJONEGORO - Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Buana Bojonegoro terus mengakselerasi pembangunan jaringan air bersih guna memperluas akses layanan kepada masyarakat. Ditahun 2026, salah satu BUMD Bojonegoro ini menargetkan penambahan layanan hingga 8.000 sambungan rumah (SR) di sejumlah kecamatan.
Ekspansi jaringan difokuskan pada wilayah Sugihwaras, Kepohbaru, Kedungadem, Sumberejo. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerataan pelayanan air bersih sekaligus penguatan ketahanan air daerah.
Direktur PDAM Tirta Buana Bojonegoro, M. Khairul Anwar, menyampaikan bahwa pengembangan dilakukan secara bertahap dengan mengoptimalkan infrastruktur dan sumber air yang telah tersedia.
“Pengembangan utama diarahkan pada jaringan Wedoro yang sebelumnya dibangun oleh Dinas PU agar bisa dimanfaatkan secara maksimal. Target kami, di tahun 2026 bisa melayani hingga 8.000 sambungan rumah,” ujar Khairul
Menurut Khairul, ketersediaan air baku hingga saat ini masih dalam kondisi aman. PDAM mengandalkan pasokan dari Waduk Gongseng dan Sungai Bengawan Solo, yang dinilai masih mampu menopang rencana perluasan layanan.
Selain itu, PDAM juga mendukung langkah antisipatif Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama BPBD dalam menghadapi potensi kekeringan saat musim kemarau, meskipun fokus utama tetap pada pengembangan wilayah layanan PDAM.
“Kami tetap konsentrasi pada pengembangan jaringan layanan yang menjadi kewenangan PDAM,” tegas Khairul.
Dari sisi investasi, perluasan jaringan pipa dilakukan menggunakan pendanaan internal PDAM, meski di tengah keterbatasan anggaran. Hingga awal Februari 2026, PDAM telah membangun sekitar lima kilometer jaringan pipa di wilayah Kedungadem, Kepohbaru, dan Sumberejo Kidul, serta berhasil merealisasikan sekitar 4.109 sambungan rumah baru.
Tak hanya itu, PDAM Tirta Buana juga menjalin kerja sama dengan sejumlah desa yang mengalami keterbatasan sumber air melalui skema pam desa. Kerja sama tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman pemanfaatan jaringan pipa PDAM sebagai suplai air baku.
“Kerja sama sudah berjalan di Desa Mojosari, Kepohbaru, dan Cengkir. Mojosari hampir 300 pelanggan, Cengkir sekitar 100 pelanggan, dan Kepohbaru sudah terlayani sejak Desember lalu,” jelas Khairul.
Pengembangan jaringan serupa juga dilakukan di wilayah Siwalan dan desa sekitarnya. Melalui pembangunan pipa sepanjang dua kilometer, kawasan ini diproyeksikan mampu melayani sekitar 150 sambungan rumah.
Terkait kebijakan tarif, Khairul memastikan di tahun 2026 tidak ada rencana kenaikan tarif air. Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi daerah.
“Tarif tetap kami pertahankan. Ini memang menjadi tantangan bagi PDAM, namun pelayanan kepada masyarakat harus tetap menjadi prioritas,” katanya.
Sebagai tolok ukur keberhasilan program hingga akhir 2026, PDAM menargetkan peningkatan cakupan layanan, penurunan wilayah rawan kekeringan, serta pertumbuhan pendapatan perusahaan.
“Peningkatan pendapatan tentu berdampak pada dividen, tetapi yang paling utama PDAM adalah badan pelayanan publik. Orientasinya bukan semata bisnis, melainkan pelayanan sosial bagi masyarakat,” pungkasnya. (sam)