BOJONEGORO – Pemerintah Desa (Pemdes) Tondomulo bersama warga Dusun Bunten, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, berharap akses jalan utama di wilayah mereka segera mendapatkan perhatian dan pembangunan kembali. Pasalnya, jalan rusak sepanjang 1,5 kilometer yang menjadi penghubung dusun dengan desa induk kini memprihatinkan, terutama saat musim hujan.
Harapan itu mencuat setelah sebuah video viral di media sosial memperlihatkan sejumlah pelajar Dusun Bunten harus berhenti di tengah jalan untuk membersihkan lumpur dan tanah liat yang menempel di roda sepeda motor mereka saat berangkat ke sekolah. Kondisi jalan yang licin dan berlumpur membuat kendaraan sulit melintas, bahkan membahayakan pengguna jalan.
Kepala Desa Tondomulo, Yanto, membenarkan bahwa video tersebut diambil di wilayah desanya. Ia menjelaskan, jalan tersebut memang masih berupa tanah dan melintasi lahan milik Perhutani.
“Benar, itu jalan di Desa Tondomulo. Jalannya memang masih tanah dan termasuk lahan milik Perhutani,” terang Yanto, Kamis (13/11/2025).
Ia menambahkan, perbaikan terakhir dilakukan pada tahun 2022 melalui program Karya Bakti Sosial Berskala Besar (KBSB). Namun sejak itu belum ada lanjutan pembangunan di ruas tersebut.
“Terakhir dibangun tahun 2022 lewat program KBSB. Kami berharap pembangunan bisa dilanjutkan lagi, entah melalui program KBSB atau TMMD, supaya akses warga bisa lancar,” ujarnya.
Yanto juga menyebutkan bahwa Dusun Bunten dihuni oleh sekitar 96 Kepala Keluarga (KK). Seluruh warga di dusun tersebut mengandalkan jalan tanah tersebut sebagai satu-satunya akses keluar masuk menuju desa induk.
“Jalan itu penting sekali bagi warga. Semua aktivitas, termasuk anak sekolah dan hasil pertanian, lewat sana. Jadi kalau hujan turun, semuanya jadi terhambat,” imbuhnya.
Warga Dusun Bunten pun berharap pemerintah daerah dapat segera menindaklanjuti kondisi tersebut. Mereka menilai pembangunan jalan dengan beton atau cor akan sangat membantu memperlancar mobilitas masyarakat.
“Kalau hujan, jalannya berubah jadi lumpur tebal. Anak-anak sekolah harus dorong motor dan bersihkan lumpur dulu biar bisa jalan,” ujar salah satu warga.
Baik Pemdes maupun warga berharap perhatian dari pemerintah daerah agar jalan penghubung sepanjang 1,5 kilometer itu bisa segera dibangun, sehingga aktivitas masyarakat yang berjumlah puluhan keluarga itu dapat berlangsung lebih aman dan nyaman. (hil/sam)