BOJONEGORO — Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bojonegoro menggandeng Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk membedah dan memperkuat warisan visual Batik Bojonegoro. Langkah strategis ini ditempuh agar karya perajin lokal tidak sekadar menjadi komoditas pasar, melainkan memiliki akar sejarah dan filosofi yang kuat.

​Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, mengungkapkan bahwa kerja sama lintas institusi ini menjadi landasan penting dalam membangun identitas visual dan filosofi motif yang selama ini menjadi ciri khas daerah.

​"Ini baru langkah awal untuk menyusun kajian secara akademis mengenai Batik Bojonegoro. Kajian tersebut meliputi penguatan identitas visual hingga penyusunan filosofi pada masing-masing motif batik yang ada," ujarnya. Selasa (11/8/2026).

​Tidak berhenti pada tataran dokumentasi arsip budaya, kolaborasi ini juga menyasar peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) para perajin di lapangan. Pendampingan teknis hingga proses kurasi desain disiapkan untuk mendongkrak daya saing karya lokal di kancah yang lebih luas.

​"Harapan kami sangat besar, terutama untuk peningkatan kapasitas para pengrajin batik di Bojonegoro. Mudah-mudahan mereka dapat memperoleh pelatihan, pendampingan, hingga proses kurasi desain maupun bentuk pengembangan lainnya yang akan memperkuat daya saing batik Bojonegoro," tambah Cantika.

​Saat ini, geliat industri kriya di Bojonegoro digerakkan oleh sekitar 40 perajin batik dengan karakter karya yang beragam. Kehadiran akademisi diharapkan mampu merumuskan satu pijakan bersama berupa motif pakem, sehingga inovasi corak baru tetap berpijak pada identitas aslinya.

​Inisiatif ini langsung disambut antusias oleh para pelaku industri kreatif di tingkat akar rumput. Lukdianto, salah satu perajin batik Bojonegoro, menilai lawatan bersama Pemkab Bojonegoro ke ISI Surakarta pada Selasa (4/8/2026) merupakan jawaban atas desakan kebutuhan standar baku motif daerah.

​"Harapan kami, motif pakem Batik Bojonegoro nantinya dapat menjadi acuan dan selalu dimunculkan dalam setiap pengembangan motif-motif baru yang dihasilkan oleh para perajin batik di Bojonegoro," ungkap Lukdianto. Selasa ( 11/8/2026).

​Dari sudut pandang akademis, Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, melihat kekayaan kearifan lokal Bojonegoro menyimpan potensi estetik yang luar biasa untuk diterjemahkan ke dalam bahasa visual tekstil maupun bentuk kesenian lainnya.

​"Bojonegoro memiliki kearifan lokal yang dapat diterjemahkan dalam bentuk visual pada motif batik maupun karya seni lainnya. Dengan demikian, identitas Bojonegoro tidak hanya melekat secara visual, tetapi juga hidup dalam budaya keseharian masyarakat," jelas Bondet.

​Melalui perpaduan sinergi antara pemerintah daerah, institusi pendidikan tinggi, dan para perajin, Batik Bojonegoro diproyeksikan tidak hanya menjadi motor penggerak ekonomi kreatif, melainkan wadah penjaga jati diri dan sejarah lokal agar kian disegani di kancah nasional maupun internasional.(hil/ss)