BOJONEGORO - Musim kemarau baru saja dimulai, namun ancaman krisis air bersih yang mengerikan sudah di depan mata. Sebanyak 93 desa di 24 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro kini dalam kondisi siaga satu, membayangi ribuan warga yang terancam kekeringan ekstrem tahun ini.

​Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro bahkan langsung bergerak cepat mengantisipasi dampak buruk tersebut. Petugas mulai meningkatkan langkah mitigasi dengan mendistribusikan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang dilaporkan sudah mulai kehabisan pasokan air.

​Plt Kalaksa BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi mengungkapkan, potensi kekeringan mengerikan ini merupakan hasil pemetaan dan mitigasi ketat yang telah dilakukan sejak awal tahun.

​"Sebanyak 93 desa di 24 kecamatan diprediksi mengalami kekeringan. Angka ini merupakan hasil mitigasi yang telah dilakukan BPBD Bojonegoro sejak awal tahun," ujar Heru, Sabtu (13/6/2026)

​Meski peta kerawanan saat ini terlihat mencemaskan, BPBD mencatat ada sedikit angin segar berupa penurunan angka dibanding tahun lalu. Pada musim kemarau sebelumnya, tercatat ada 106 desa di Bojonegoro yang kering kerontang.

​"Jumlah ini menurun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 106 desa terdampak kekeringan," katanya.

​Heru menjelaskan, menyusutnya jumlah desa rawan kekeringan ini tidak lepas dari genjotan akses layanan air bersih di sejumlah wilayah. Pembangunan jaringan air bersih oleh pemerintah desa hingga perluasan layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bojonegoro dinilai sukses meredam risiko kekeringan.

​Namun, BPBD mengingatkan agar semua pihak tidak lengah. Data tersebut masih bersifat prediksi awal dan situasi di lapangan bisa memburuk sewaktu-waktu, tergantung pada perkembangan cuaca ekstrem dan kondisi sumber air setempat.

​"Data mitigasi ini belum bisa memastikan jumlah akhir desa terdampak. Masih ada kemungkinan terjadi penambahan maupun pengurangan, tergantung kondisi di lapangan," jelasnya.

​Kewaspadaan tinggi kini diterapkan BPBD menyusul peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pasalnya, BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini bakal jauh lebih menyengat dan ekstrem dibanding tahun lalu.

​"Berdasarkan prediksi BMKG, tahun ini berpotensi terjadi musim kemarau yang lebih ekstrem. Karena itu, kami memperkirakan jumlah desa yang mengalami kekeringan bisa bertambah," ungkap Heru.

​Dari total 24 kecamatan yang masuk zona merah tersebut, Kecamatan Sumberrejo, Kepohbaru, dan Ngasem tercatat sebagai wilayah dengan sebaran desa rawan kekeringan paling parah.

​Pemerintah mengimbau keras agar masyarakat tidak boros dan mulai melakukan penghematan air sekecil apa pun sejak dini. Langkah krusial ini diperlukan demi bertahan di tengah hantaman musim kemarau yang diprediksi bakal jauh lebih berat.

​"Kami mengimbau masyarakat untuk lebih hemat dan bijak dalam menggunakan air, karena kondisi cuaca tahun ini diprediksi lebih parah dibandingkan tahun lalu," pungkasnya.