BOJONEGORO – Sakit stroke, lansia di Desa Dander meninggal terbakar. Karena tak kuasa menyelamatkan diri saat api melalap habis tempat tidurnya.

Suasana gelap akibat pemadaman listrik di Desa Dander, Kecamatan Dander, Bojonegoro, seketika berubah menjadi jerit histeris yang memecah kegelapan malam, Seorang lansia berinisial DN, yang telah setahun lebih alami stroke, ditemukan tewas mengenaskan dengan kondisi tubuh hangus terbakar di dalam kamarnya sendiri.

​Peristiwa memilukan ini terungkap sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu, saksi mata bernama Kistiani baru saja melepas lelah usai berjualan bakso di area Lapangan Dander. Namun, langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu rumah saat melihat kobaran api telah melahap kamar tidur orang tuanya.

​Kapolsek Dander, Iptu Warsito, mengungkapkan bahwa api diduga kuat berasal dari sebatang lilin yang menjadi satu-satunya sumber cahaya di tengah pemadaman listrik total yang melanda wilayah Dander sejak pukul 09.00 WIB pagi.

​"Berdasarkan keterangan saksi dan olah TKP, api bersumber dari lilin yang dinyalakan oleh anak korban, sekitar pukul 17.00 WIB. Lilin tersebut diletakkan di atas meja kayu tanpa alas, tepat di samping tempat tidur korban," ujar Iptu Warsito. Sabtu (27/3/2026).

​Nahas, meja kayu tersebut berdiri di atas tumpukan pakaian yang mudah terbakar. Sementara itu, kasur korban yang terbuat dari bahan kapas menjadi pemicu cepatnya api merambat.

​Derita DN kian memilukan mengingat kondisinya yang menderita stroke menahun. Selama lebih dari satu tahun, hanya mampu menggerakkan kepala dan tangan. Kakinya yang kaku membuatnya tak kuasa melarikan diri saat api mulai membakar sprei dan bantal di sekelilingnya.

Petugas Polsek Dander dan Tim Medis Evakuasi Korban Tewas Terbakar Saat Listrik Padam. Foto : Istimewa

​Warga yang mendengar teriakan minta tolong Kistiani sempat berupaya bahu-membahu memadamkan api dengan peralatan seadanya. Namun, saat api berhasil dijinakkan, DjN ditemukan sudah tidak bernyawa dengan luka bakar mencapai 95 persen.

​"Korban dalam kondisi hangus terbakar. Mengingat riwayat sakitnya, korban tidak mungkin bisa berjalan menyelamatkan diri saat peristiwa terjadi," tambah Iptu Warsito.

​Selain merenggut nyawa, musibah ini menyebabkan kerugian materiil. Meski diselimuti duka mendalam, pihak keluarga korban memilih untuk menerima kejadian ini sebagai musibah.

​Ahli waris secara resmi menolak tindakan otopsi dan menyatakan telah ikhlas atas kepergian sang bapak. Mereka menandatangani surat pernyataan untuk tidak melakukan tuntutan hukum kepada pihak manapun, menyadari bahwa peristiwa ini bermula dari upaya sederhana mencari penerangan di tengah gelapnya malam. (ain)