BOJONEGORO - Pengemudi Mobil Avansa AA 1239 RN Nurul Qomarulloh, menjelaskan bahwa sesaat sebelum kejadian, ia baru saja selesai melakukan briefing rutin pagi bersama tim proyek mengenai keselamatan kerja. Saat hendak berangkat menjemput rekannya, ia mencoba menjalankan mobil operasionalnya.

​Nurul mengaku mobil tersebut sudah mengalami kendala teknis selama 2-3 hari terakhir.

" Ketika mencoba mengoper gigi maju setelah sebelumnya mundur, mobil tersebut tidak langsung berjalan. Namun, saat menginjak pedal gas sedikit, mobil tersebut justru lompat meluncur kencang secara tiba-tiba hingga tidak terkendali." ucap Nurul. Jum'at (1/5/2026).

​Nurul yang terbaring ah fi kamar rsud sosodoro, menyatakan bahwa saat mobil meluncur ke arah lapangan, fokus utamanya adalah menghindari kerumunan siswa yang sedang berlatih. Ia berusaha membanting setir ke arah yang lebih sepi, namun karena kecepatan mobil yang tiba-tiba tinggi, tabrakan tetap terjadi. Mobil tersebut akhirnya berhenti setelah menabrak tiang bendera dengan sangat keras hingga tiang tersebut patah.

​Berdasarkan pengamatan Nurul sesaat setelah kejadian, ada siswa yang berada di bawah kolong mobil setelah ia keluar dari kendaraan.

Petugas polisi sedang di lokasi MTSN 1 Bojonegoro. Foto : suarasatu.com

​Dari data rumah sakit, ada sekitar lima orang korban, dengan dua di antaranya mengalami luka yang cukup parah, termasuk dugaan retak pada tulang tangan dan pergeseran tulang pinggul.

​Para korban saat itu sedang melakukan aktivitas latihan tali temali menggunakan bambu di lapangan. Nurul sendiri mengalami luka di bagian mulut akibat benturan karena airbag mobil tidak mengembang saat kecelakaan terjadi.

Manager pengawas proyek ini juga mengaku saat itu belum sempat mengenakan sabuk pengaman karena posisi mobil masih berada di dalam area lapangan sekolah.

​Nurul mengungkapkan rasa kaget dan penyesalannya, terutama karena ia tidak menyangka akan ada banyak siswa di sekolah pada hari tersebut.

(ain)