Bojonegoro - Suara kokok ayam dan derap langkah ke kandang kini menjadi rutinitas pagi baru bagi Udin Sumarso, warga Desa Alasgung, Kecamatan Sugihwaras. Sejak mengikuti program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI) dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, tiap hari Udin memanen sekitar 50 butir telur, setara 2,5 kilogram hasil ternak yang kini menopang kehidupan keluarganya.

Rutinitas ini bukan sekadar urusan memberi makan dan mengambil telur. Bagi Udin, ini adalah simbol perubahan. Ia menyebutkan bahwa telur-telur tersebut dijual di pasaran dengan harga antara Rp 24.000 hingga Rp 26.000 per kilogram. Sebagian besar pendapatan digunakan untuk kebutuhan pakan ayam, sisanya menjadi penghasilan bersih.

“Uang hasil penjualan telur saya putar untuk membeli pakan ayam. Sisanya sekitar 10 hari dikali 2,5 kg penjualan telur ayam mendapatkan sekitar Rp 600 ribu - Rp 700 ribu tergantung harga telur di pasaran,” kata Udin.

Meski pendapatan belum besar, Udin bersyukur. Ia merasa terbantu dengan hadirnya program ini, yang menurutnya bukan hanya memberi modal, tapi juga harapan. Ia berharap GAYATRI bisa terus berjalan dan memberi manfaat bagi lebih banyak warga.

“Semoga program GAYATRI ini dapat berlanjut kedepannya dan semakin banyak membantu masyarakat kecil Bojonegoro,” ujarnya.

Kebahagiaan yang sama dirasakan Munkamah, penerima bantuan lainnya. Bagi perempuan yang juga seorang petani ini, hasil panen telur menjadi penopang kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Ia menyampaikan rasa terima kasih secara langsung kepada pemerintah daerah.

“Hasil telurnya saya jual terus dibelikan kebutuhan bahan pokok. Matur suwun Pak Bupati Ibu Wakil Bupati untuk program ayam petelur niki. Mugi-mugi barokah lan membantu masyarakat miskin,” katanya dengan penuh syukur.

Di balik kesuksesan awal program GAYATRI ini, ada tim pelaksana yang aktif memantau perkembangan ayam-ayam petelur milik warga. Salah satunya adalah Irfai, yang bertugas di Desa Alasgung. Ia memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar, mulai dari distribusi ayam hingga pemeriksaan kesehatan ternak secara rutin.

“Setiap paginya telur diambil dan diberikan pakan 2 kali sehari. Untuk kesehatannya juga kami cek secara berkala,” jelas Irfai.

Dari 54 ekor ayam yang diterima masing-masing KPM, Irfai menyebut sekitar 50 ekor aktif bertelur tiap hari menunjukkan tingkat produktivitas hingga 95 persen.

Kepala Desa Alasgung, Bandriyo, melihat geliat ekonomi baru ini sebagai pertanda baik. Ia menegaskan bahwa program ini dirancang berdasarkan Data Mandiri Kemiskinan Daerah (DAMISDA) dan benar-benar menyasar warga yang membutuhkan.

“Semoga tahun depan KPM sudah semakin ringan perekonomiannya dan bisa bebas dari garis kemiskinan. Harapan kami dengan program yang sudah berjalan ditahun-tahun berikutnya data kemiskinan di Alasgung bisa berkurang,” katanya optimis.

Dari butir-butir telur yang dipanen setiap pagi, sebuah cita-cita sederhana tumbuh, keluar dari lingkaran kemiskinan dan hidup lebih mandiri. GAYATRI, bagi warga seperti Udin dan Munkamah, bukan hanya program bantuan, tapi jalan menuju masa depan yang lebih baik. alf/af.