BOJONEGORO - Truk-truk bertonase berat yang selama ini kerap menjadi biang kemacetan di dalam kota Bojonegoro bersiap dialihkan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro memastikan rencana pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS) kini makin matang setelah studi kelayakan rampung, dengan target pembebasan lahan dimulai tahun depan.

​Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang (PU BM PR) Kabupaten Bojonegoro, Biyanto, mengungkapkan bahwa proyek strategis ini akan melintasi empat kecamatan dan diperkirakan berdampak pada sekitar 16 desa.

​"Untuk daftar lengkapnya masih dalam proses sosialisasi," ujar Biyanto, Selasa (29/9/2026).

​Berdasarkan perencanaan terbaru, jalur atau trase JLS ini akan membentang di Kecamatan Balen, Sukosewu, Kapas, dan Dander. Penentuan lokasi titik vital juga telah dikantongi, di antaranya flyover sisi barat yang diputuskan berada di Desa Ngablak. Sementara itu, flyover sisi timur dipatok di wilayah Desa Kabunan, Kecamatan Balen, serta sebagian wilayah Desa Sobontoro, Balen.

​Sepanjang tahun 2026 ini, Pemkab Bojonegoro tancap gas merampungkan sejumlah dokumen penting. Mulai dari penyusunan Detailed Engineering Design (DED), dokumen pengadaan tanah, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin), hingga menggodok Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah (DPPT) lewat sosialisasi langsung ke desa-desa terdampak.

​Jika seluruh tahapan berjalan mulus, proses pengadaan dan pembebasan lahan ditargetkan tuntas dan terealisasi pada 2027. Selanjutnya, alat-alat berat baru akan mulai turun ke lapangan untuk memulai pengerjaan fisik pada 2028 mendatang.

​Kehadiran JLS Bojonegoro tidak hanya diproyeksikan sebagai solusi ampuh mengurai kepadatan kendaraan besar di pusat kota, melainkan juga menjadi katalisator baru untuk menstimulasi pertumbuhan serta pemerataan ekonomi di sepanjang jalur selatan tersebut.

(ar/ss)