BOJONEGORO – Produksi telur dari program Gerakan Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) yang dijalankan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) terus menunjukkan hasil positif. Hingga pertengahan Oktober 2025, total produksi mencapai 385.119 butir telur.

 

Produksi tersebut berasal dari 21.600 ekor ayam petelur yang dibagikan kepada 400 keluarga penerima manfaat (KPM) di 10 desa pada 5 kecamatan.

 

“Sebanyak 400 KPM penerima program Gayatri itu didanai dari APBD induk yang telah tersalurkan sejak Juli 2025 lalu,” ujar Kepala Bidang Peternakan Disnakkan Bojonegoro, Fajar Dwi Nurrizki, Kamis (16/10/2025).

 

Fajar menjelaskan, hasil produksi telur program Gayatri yang dikelola Disnakkan lebih tinggi dibanding program serupa yang dijalankan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD). Hal itu karena ayam yang diberikan kepada KPM sudah dalam usia siap bertelur.

 

“Selain itu, pakan dan kondisi kandang juga berpengaruh besar. Ketika ayam nyaman, produktivitasnya meningkat,” tambahnya.

 

Program Gayatri yang dikelola Disnakkan tersebar di lima kecamatan, masing-masing dua desa. Yakni:

 

Kecamatan Ngambon (Desa Bondol dan Sengon),

 

Kecamatan Sekar (Desa Sekar dan Klino),

 

Kecamatan Gondang (Desa Gondang dan Senganten),

 

Kecamatan Tambakrejo (Desa Kancangan dan Turi), serta

 

Kecamatan Bubulan (Desa Cancung dan Sumberbendo).

 

 

Sementara itu, Kepala DPMD Bojonegoro, Machmuddin, menjelaskan bahwa program Gayatri yang bersumber dari APBDes dianggarkan sebesar Rp45,2 miliar. Hingga kini, realisasi anggaran baru mencapai Rp14,2 miliar.

 

“Dari 419 desa, sudah 145 desa yang melaksanakan program Gayatri. Sedangkan 274 desa masih dalam proses, dan tiga desa belum melaporkan ke DPMD,” jelas Machmuddin.

 

Ia menambahkan, hingga pertengahan Oktober 2025, produksi telur dari program Gayatri yang dikelola DPMD telah mencapai 65.351 butir, berasal dari 40.154 ekor ayam yang dibagikan kepada 741 KPM di 22 kecamatan.

 

“Penyaluran bantuan ayam belum mencapai 50 persen karena stok ayam petelur masih terbatas. Itu yang menyebabkan sebagian desa belum menjalankan program Gayatri,” pungkasnya. (alf/af)