BOJONEGORO – PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Regional Indonesia Timur terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Bojonegoro. Melalui berbagai program Pengembangan dan Pelibatan Masyarakat (PPM), perusahaan yang mengelola Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) ini tidak hanya berfokus pada sektor energi, tetapi juga aktif dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan pelestarian budaya lokal.
Salah satu bentuk nyata kontribusi tersebut ialah Program Sekolah Energi Berdikari (SEB) di SMP Negeri 1 Ngasem. Program ini dirancang untuk menanamkan nilai-nilai kemandirian energi, kepedulian lingkungan, dan kewirausahaan sejak dini kepada siswa.
Manager Communication Relation & CID PEPC Regional Indonesia Timur, Rahmat Drajat, menjelaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama membangun masa depan bangsa.
“Sejalan dengan visi Pertamina untuk menciptakan nilai tambah dan keberlanjutan, PEPC percaya bahwa investasi terbaik adalah pada sumber daya manusia, terutama generasi muda sebagai penerus bangsa,” ujarnya.
Melalui SEB, para siswa diajak memahami konsep energi terbarukan, praktik konservasi lingkungan, hingga pelatihan kewirausahaan kreatif. Mereka juga melakukan praktik langsung seperti pembuatan lubang biopori, vertical garden, serta pelatihan keterampilan usaha.
“Program ini diharapkan menjadi model sekolah energi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kemandirian dan kelestarian lingkungan,” tambah Rahmat.

Kepala SMPN 1 Ngasem, Endro W.S, mengapresiasi dukungan PEPC yang telah menginspirasi siswa untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
“Dengan adanya hutan sekolah ini, kami mengkolaborasikan antara teori dan praktik di lapangan supaya anak-anak mengenal dan memahami bagaimana cara mengurangi emisi karbon. Edukasi ini membuat anak-anak semakin gemar menanam pohon, dan lahan yang dulu semak belukar kini telah berubah menjadi hutan sekolah,” ungkapnya.
Selain di sektor pendidikan, PEPC juga berkontribusi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program budidaya ayam petelur yang dikelola oleh BUMDes Kaliombo, Kecamatan Purwosari. Inisiatif ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dan mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).
Rahmat menegaskan bahwa program tersebut bukan sekadar bantuan, melainkan investasi sosial jangka panjang untuk menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat.
“Melalui budidaya ayam petelur, kami membekali masyarakat dengan keterampilan kewirausahaan dan sumber pendapatan berkelanjutan. Program ini diharapkan mampu menggerakkan perekonomian lokal dan memperkuat peran BUMDes sebagai tulang punggung ekonomi desa,” jelasnya.

Program ini juga memberikan dampak sosial berupa peningkatan gizi masyarakat melalui ketersediaan telur segar dan terjangkau.
“Kemitraan dengan BUMDes Kaliombo menjadi kunci keberhasilan, karena masyarakat menjadi pelaku utama dalam pengelolaannya. Dengan tata kelola yang baik, kami yakin program ini dapat menjadi model kolaborasi antara korporasi dan masyarakat yang menciptakan nilai tambah berkelanjutan,” tambahnya.

Tak hanya ekonomi dan pendidikan, PEPC turut berperan dalam pelestarian seni dan budaya Jawa melalui dukungan terhadap Kelompok Seni Joyo Tirto Budoyo Laras (JTB-L) di Desa Kaliombo. Program ini meliputi penyediaan peralatan gamelan lengkap, pembangunan pusat sanggar, penyediaan kostum, legalitas paguyuban, hingga promosi kesenian lokal.
“Dukungan ini merupakan wujud nyata komitmen PEPC untuk menjaga kelestarian warisan budaya Jawa, khususnya di wilayah operasi kami di Bojonegoro. Gamelan bukan sekadar alat musik, melainkan representasi nilai-nilai luhur budaya Jawa yang mengajarkan harmoni, ketelitian, dan kerja sama,” kata Rahmat.
Kepala Desa Kaliombo, Rohmad Edi Suyanto, menyebut program PEPC tersebut sebagai bentuk nyata kolaborasi antara budaya dan pembangunan.
“Desa kami tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tapi juga secara budaya. Warga punya kebanggaan tersendiri saat gamelan berbunyi, karena di situ ada jati diri kita,” tuturnya.
Program pelestarian budaya ini juga menargetkan generasi muda, terutama pelajar di sekitar Desa Kaliombo, agar lebih mencintai seni karawitan dan mengenal nilai-nilai luhur budaya lokal sejak dini.
Melalui beragam inisiatif tersebut, PEPC bersama SKK Migas dan Subholding Upstream Pertamina berupaya menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan.
“Kami mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, masyarakat, serta lembaga pendidikan yang telah menjadi mitra aktif dalam berbagai program ini. Keberhasilan ini merupakan bukti nyata sinergi antara korporasi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun kemandirian dan kesejahteraan,” tutup Rahmat Drajat. (di/sam)