BOJONEGORO — Tokoh dan Sesepuh NU mendapat gelar Pahlawan Nasional, Fraksi PKB DPRD Kabupaten Bojonegoro menggelar tasyakuran dan Khotmil Qur’an Binnadhor.
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional itu diberikan kepada Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan aktivis buruh Marsinah.
Berlangsung di Gedung DPRD Bojonegoro dan diikuti jajaran pengurus serta santri dari sejumlah pondok pesantren. Hingga Rois Syuriah PCNU Bojonegoro KH. Maimun Syafi’i, Ketua Dewan Syuro DPC PKB Bojonegoro KH. M. Sochib Soim, Ketua DPRD Bojonegoro H. Abdulloh Umar, serta 13 anggota Fraksi PKB.
Ketua Fraksi PKB DPRD Bojonegoro, M. Suparno, menyampaikan bahwa penganugerahan gelar ini menjadi dorongan semangat bagi Fraksi PKB dalam menjalankan tugas-tugas legislasi dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Fraksi PKB Bojonegoro merasa bangga sekaligus terpanggil untuk meneladani semangat para pahlawan ini. Mereka berjuang dengan ketulusan dan keberanian, dan itu menjadi energi bagi kami dalam menjalankan amanah di lembaga legislatif,” ujar M. Suparno.
Sementara itu, Ketua DPRD Bojonegoro H. Abdulloh Umar mengajak seluruh pihak menjadikan nilai perjuangan ketiga tokoh tersebut sebagai teladan.
“Penetapan gelar pahlawan nasional bagi Syaikhona Kholil, Gus Dur, dan Marsinah merupakan momentum untuk memperkuat komitmen kita pada nilai perjuangan, kemanusiaan, dan keadilan,” tutur Abdullah Umar.
Senada dengan ketua DPRD Bojonegoro, Rois Syuriah PCNU Bojonegoro, KH. Maimun Syafi’i, juga menegaskan bahwa gelar pahlawan nasional kepada Syaikhona Kholil merupakan kehormatan besar bagi warga Nahdliyyin.
“Beliau adalah guru besar para ulama. Keteladanannya merupakan fondasi penting dalam perjalanan keilmuan dan kebangsaan kita,” ucap KH. Maimun Syafi'i.
Ketua Dewan Syuro DPC PKB Bojonegoro, KH. Sochib Sho’im, menambahkan bahwa PKB berkewajiban menjaga nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para tokoh tersebut.
“Gus Dur, Syaikhona Kholil, dan Marsinah adalah simbol perjuangan tanpa pamrih. PKB berkomitmen menjaga dan mengawal nilai-nilai itu,” jelas Shochib.
Tasyakuran diakhiri dengan potong tumpeng bersama wujud rasa syukur, sekaligus penghormatan terhadap jasa para pahlawan yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia.