BOJONEGORO – Di tengah tren olahraga lari yang kian digemari, sekelompok anak muda di Bojonegoro memilih jalur berbeda, bukan di jalan kota, tapi di jalur-jalur alam yang menantang. Mereka tergabung dalam Upluk Runners, komunitas pelari lintas alam (trail running) yang dipimpin oleh Dio Alfian.
Dio menuturkan, Upluk Runners berawal dari sekumpulan pelari jalan raya yang ingin mencari pengalaman baru.
“Awalnya kami latihan di jalan aspal, tapi lama-lama bosan. Kami ingin menjelajah lebih jauh ke hutan, bukit, dan gunung. Dari situlah semangat trail running tumbuh,” ujarnya.
Bagi Dio, trail run bukan sekadar olahraga. Di jalur alami, setiap tanjakan, turunan, dan cuaca ekstrem menjadi ujian fisik sekaligus mental.
“Lari di alam itu tidak hanya soal kuat, tapi juga tentang bagaimana kita belajar bertahan dan menghargai alam,” katanya.
Kini, Upluk Runners rutin menggelar latihan seperti trail exploration runs, hill training, hingga simulasi race. Namun, komunitas ini tidak hanya fokus pada fisik. Mereka juga aktif memberikan edukasi tentang keselamatan di alam, etika trail running, dan pentingnya menjaga lingkungan.
“Kami ingin setiap pelari sadar bahwa alam ini bukan sekadar lintasan lomba, tapi rumah yang harus dijaga,” tegas Dio.
Nama Upluk sendiri diambil dari kata uplook, yang bermakna “menatap ke atas” simbol semangat untuk terus naik dan tidak mudah menyerah. Filosofi ini menjadi jiwa setiap langkah anggota komunitas.
Dengan moto “Naik satu langkah lebih tinggi” dan tagline “To infinity and beyond”, Upluk Runners tak hanya berlari menembus jalur pegunungan. Mereka berlari menyalakan semangat baru: hidup sehat, cinta alam, dan solidaritas tanpa batas. (sof/sam)