BOJONEGORO - Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, hadiri acara Gebyar Petroganik yang digelar di aula Barista Cafe yang berada di Desa Bangilan Kecamatan Kapas, Bojonegoro dengan membawa kabar membanggakan sekaligus peringatan serius bagi sektor pertanian di wilayahnya.

Dalam pidatonya, Nurul memberikan apresiasi kepada para petani dan penyuluh karena Bojonegoro berhasil mencatatkan kenaikan produktivitas padi yang sangat signifikan.

"Hasil panen kita luar biasa. Dari 710.000 ton di tahun kemarin, meningkat menjadi 864.000 ton. Ini adalah bukti kerja keras bapak-ibu petani semua dan para penyuluh di lapangan," ujar Nurul. Selasa (28/4/2026).

Kebanggaan Nurul bertambah karena Bojonegoro kini menduduki posisi prestisius di tingkat nasional dalam hal penggunaan pupuk organik.

"Saya sangat bangga karena Kabupaten Bojonegoro tercatat sebagai daerah dengan serapan pupuk Petroganik tertinggi kedua di seluruh Indonesia. Ini menunjukkan petani kita sudah mulai peduli pada keberlangsungan hara tanah," tegasnya.

​Namun, di balik prestasi tersebut, Nurul memaparkan data yang cukup mengkhawatirkan terkait penurunan jumlah petani secara drastis dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan data yang ia sampaikan, pada tahun 2013 jumlah petani di Bojonegoro mencapai 356.484 orang, namun di tahun 2024 angka tersebut menyusut tajam menjadi tinggal 191.588 petani. Yang lebih memprihatinkan, mayoritas dari mereka sudah memasuki usia senja. "Artinya, mata pencaharian petani ini mayoritas berada di atas umur 60 tahun ke atas. Dari jumlah yang ada, sebanyak 134.704 orang sudah berusia di atas 64 tahun. Lantas, bagaimana dengan generasi muda untuk kebangkitan pertanian kita?" tanya Nurul dengan nada cemas.

Wabup Nurul Berikan apresiasi kepada petani dan penyuluh pertanian di Bojonegoro. Selasa (28/4/2026) Foto : suarasatu.com

​Kondisi penuaan usia petani ini berdampak langsung pada sulitnya mencari tenaga kerja manual di sawah. Nurul mengungkapkan bahwa tradisi mengolah sawah secara konvensional kini mulai terbentur kelangkaan tenaga kerja.

"Sekarang cari orang tandur (tanam), orang daut, orang matun itu sulit. Maka, di tahun 2026 ini, kita harus memaksimalkan penggunaan alat atau mekanisasi seperti transplanter agar produktivitas tetap terjaga tanpa bergantung sepenuhnya pada tenaga manual," jelasnya sebagai solusi untuk menarik minat generasi muda.

​Menutup arahannya, Nurul Azizah tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang menjadi garda terdepan dalam mendampingi petani.

"Terima kasih kepada para PPL yang tidak lelah memberikan edukasi. Tanpa bimbingan panjenengan semua, sulit bagi kita untuk mencapai angka produktivitas yang setinggi ini," tuturnya.

Ia juga mengingatkan agar para petani tetap waspada menghadapi musim kemarau panjang yang akan datang dengan menyesuaikan jenis tanaman guna menghindari gagal panen.

"Meskipun tantangan alam dan tenaga kerja semakin sulit, semangat bapak-ibu sekalian untuk tetap menanam dan menjaga ketahanan pangan Bojonegoro patut kita apresiasi setinggi-tingginya," pungkas Nurul. (ain)