Dalam kitab Ihya' Ulumuddin diceritakan sebuah kisah menyentuh tentang percakapan antara Umar bin Khattab dan putranya pada suatu hari raya.

Umar melihat anaknya mengenakan pakaian yang sudah usang, lalu ia pun menangis. Sang anak bertanya dengan polos, “Wahai ayah, apa yang membuat engkau menangis?” Umar menjawab dengan penuh kasih,

“Wahai anakku, aku khawatir hatimu akan merasa sedih pada hari raya ini ketika anak-anak lain melihatmu memakai pakaian yang sudah usang.” Namun sang anak menjawab dengan keteguhan hati,

“Sesungguhnya yang merasa sedih hanyalah hati orang yang kehilangan ridha Allah, atau orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Aku berharap Allah meridhai diriku karena ridhamu kepadaku.” Mendengar jawaban itu, Umar pun semakin terharu, memeluk anaknya, dan mendoakan semoga Allah meridhai keduanya.

Kisah Khalifah Umar bin Khattab dan putranya di pagi hari raya memberikan kita sebuah cermin bening tentang makna kebahagiaan. Umar menangis bukan karena kemiskinan, melainkan karena kasih sayang seorang ayah yang khawatir anaknya merasa rendah diri dengan pakaian usang di hari kemenangan.

Namun, sang putra menjawab dengan bijak bahwa kesedihan sejati bukanlah karena pakaian yang lama, melainkan karena hilangnya ridha Allah dari dalam hati.

Pesan ini sangat mendalam bagi kita semua, khususnya bagi saya pribadi sebagai pelayan masyarakat di bumi Angling Dharma.

Di hari yang suci ini, kita diingatkan bahwa kemuliaan tidak terletak pada atribut lahiriah, melainkan pada ketulusan hati untuk saling memaafkan dan kerendahan hati untuk memohon ridha-Nya.

Janji Ampunan dan Upah Kemenangan

Sebagaimana dikisahkan, pada pagi Idulfitri, para malaikat berdiri di pintu-pintu jalan menyeru umat Muhammad untuk menjemput pemberian yang agung dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Allah SWT bahkan berfirman kepada para malaikat bahwa "upah" bagi mereka yang telah menyelesaikan ibadahnya selama Ramadan adalah ridha dan ampunan-Nya.

Dalam kapasitas saya sebagai Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro, saya menyadari sepenuhnya bahwa dalam menjalankan amanah rakyat, tentu ada khilaf yang tak sengaja dilakukan, janji yang mungkin belum tertunaikan secara utuh, atau kebijakan yang belum menyentuh seluruh lapisan hati masyarakat Bojonegoro.

Perajut Silaturahmi, Pemersatu Hati

Maka, melalui momentum yang penuh keberkahan ini, izinkan saya secara pribadi dan atas nama pimpinan serta seluruh anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro, menyampaikan:

"Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin."

Kami memohon keikhlasan kepada seluruh masyarakat Bojonegoro untuk membukakan pintu maaf atas segala kekurangan kami. Sebagaimana putra Umar yang mengharap ridha Allah melalui ridha orang tuanya, kami pun mengharap keberkahan pengabdian ini melalui kerelaan hati masyarakat Bojonegoro.

Mari kita jadikan hari raya ini sebagai garis start untuk kembali membangun Bojonegoro dengan semangat yang lebih suci, kerja keras yang lebih tulus, dan persaudaraan yang lebih erat. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan ridha dan ampunan-Nya kepada kita semua, menjadikan kita pribadi yang kembali suci (idul fitri) dan meraih kemenangan

Taqabbalallaahu minnaa wa minkum wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidiin wal faaiziin

Wallahu a’lam bish-shawab.Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.

Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarokatuh