Ramadhan biasanya identik dengan drama sahur yang kesiangan, perburuan takjil yang kompetitif, hingga fenomena saf tarawih yang makin malam "makin maju" maksudnya maju ke depan karena barisan belakangnya sudah pulang duluan.

​Namun, di Bojonegoro, ada satu tradisi yang level kesibukannya bisa menyaingi persiapan mudik lebaran: Malem Songo. Bagi masyarakat luar, istilah ini mungkin terdengar teknis. Padahal, secara harfiah ini hanyalah penyebutan praktis untuk malem songolikur atau malam ke-29 Ramadan.

​Primbon yang "Dimaafkan"

​Mari bicara jujur. Bagi sebagian masyarakat Jawa, urusan menentukan tanggal nikah itu terkadang jauh lebih rumit dan menguras emosi ketimbang menyusun Raperda. Ada variabel hari pantangan, tanggal yang dianggap kurang etis, hingga larangan yang berbenturan dengan hari wafat leluhur.

​Lantas, apa yang terjadi jika semua hitungan itu mentok? Di sinilah Malem Songo hadir sebagai pahlawan.

"Di sinilah Malem Songo hadir sebagai pahlawan. Konon, pada malam ke-29 Ramadan ini, segala perhitungan primbon yang sedang 'error 404' bisa dianggap 'dimaafkan'."


​Malam ini dipercaya penuh berkah, sehingga menjadi jalan tengah bagi mereka yang ingin segera sah tanpa harus pusing menghitung weton hingga tujuh turunan.

​Baureno: Sang Juara dengan Semangat Militan

​Pada Ramadan 1447 H (2026) ini, data sementara dari Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro mencatat ada 484 pasangan yang menikah serentak di seantero Bojonegoro. Sebagai Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro, saya tentu merasa bangga sekaligus tergelitik membaca data tahun ini.

​Bagaimana tidak? Kecamatan Baureno keluar sebagai juara dengan catatan 48 pasangan. Posisi runner-up ditempati Kepohbaru dengan 41 pasangan, dan disusul Kanor dengan 34 pasangan. Kebetulan, ketiga kecamatan di posisi teratas ini—Baureno, Kepohbaru, dan Kanor—adalah wilayah Daerah Pemilihan (Dapil) saya.

​Melihat antusiasme warga di dapil sendiri yang begitu militan dalam urusan "menghalalkan" pasangan, rasanya saya perlu menyiapkan stok ucapan selamat yang lebih banyak tahun ini. Kita tentu bisa membayangkan betapa sibuknya para penghulu di sana yang harus menjalani shift "Ramadan Edition": siang berpuasa menahan lapar, malamnya maraton memandu janji suci.

​Antara Syariat dan Tradisi

​Meski suasananya hiruk-pikuk, prosesi Malem Songo tetap berjalan di atas rel yang benar. Semuanya sah, khidmat, dan sesuai syariat Islam tanpa ritual tambahan yang aneh-aneh. Uniknya hanya pada masalah waktu; akad bisa dimulai sejak siang hari ke-28 Ramadan hingga melampaui tengah malam menuju hari ke-29.

​Ini adalah refleksi harmonis bagaimana masyarakat Bojonegoro menjaga warisan budaya tanpa harus meninggalkan nilai agama.

"Di tengah tren pernikahan minimalis-Instagramable yang serba mewah tapi kadang hampa makna, Malem Songo menawarkan sesuatu yang lebih bersahaja: keyakinan bahwa memulai rumah tangga di bulan suci akan membawa kesucian pula."

Foto : Ucapan Selamat Pernikahan

Doa untuk Para Mempelai

​Sebagai penutup, izinkan saya mengirimkan doa terbaik bagi seluruh mempelai, khususnya bagi warga di Baureno, Kepohbaru, Kanor, serta seluruh pasangan di Bojonegoro yang telah mengikat janji suci.

​Semoga cinta kalian tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga tahan uji dan penuh keberkahan. Semoga Allah SWT melimpahkan ketenangan (sakinah), rasa cinta (mawaddah), dan kasih sayang (warahmah) dalam rumah tangga kalian, serta menjadikan momentum Malem Songo ini sebagai fondasi kokoh untuk membangun generasi Bojonegoro yang lebih baik ke depan.

Selamat menempuh hidup baru!

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.