BANYUWANGI - Dulu, bagi para pelancong yang hendak menyeberang ke Pulau Bali, Kabupaten Banyuwangi hanyalah sebuah titik perhentian sesaat. Sebagian besar wisatawan hanya singgah untuk kebutuhan mendesak lalu bergegas melanjutkan perjalanan.

Kini, stigma sebagai "daerah perlintasan" itu telah terkubur. Banyuwangi bertransformasi menjadi magnet wisata yang membuat pelancong betah singgah lebih lama.

​Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi, Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, secara blak-blakan mengakui potret masa lalu daerahnya saat menerima peserta Media Gathering 2026 yang digelar Pertamina di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Jumat (10/7/2026). "Ibaratnya, para pelancong dulu hanya mampir 'kencing' di Banyuwangi," ungkapnya. Sabtu (11/7/2026).

​Perubahan drastis ini bukannya terjadi secara instan. Sejak 2011, di bawah kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas, pemerintah daerah mulai menyadari bahwa Banyuwangi harus memiliki identitas kuat. Tantangan terberat saat itu adalah meredam ego sektoral antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang kerap membuat program pembangunan berjalan sendiri-sendiri.

"Berkat kepemimpinan yang kuat dan visioner dari Pak Azwar Anas, payung besar pembangunan di Banyuwangi disusun. Ego sektoral mulai menurun," jelas Sekda Suyanto.

​Pariwisata pun ditetapkan sebagai "payung besar" pembangunan. Konsep ini bukan sekadar jargon, melainkan strategi untuk menyatukan gerak seluruh instansi pemerintah. Suyanto menggambarkan betapa masifnya integrasi ini dengan perumpamaan yang unik.

"Ibaratnya, OPD di Banyuwangi hanya satu, yaitu Dinas Pariwisata. Artinya, seluruh dinas mengarahkan program dan kegiatannya untuk mendukung pembangunan pariwisata," tutur Sekda Banyuwangi.

​Dalam praktiknya, pembangunan infrastruktur jalan kini tak lagi asal membangun, melainkan diprioritaskan untuk memperlancar akses ke destinasi wisata. Begitu pula dengan sektor pertanian, UMKM, hingga layanan publik yang semuanya disinkronkan untuk menciptakan ekosistem yang nyaman bagi pengunjung. Banyuwangi memilih mengusung konsep ekowisata, di mana alam dan budaya lokal dijaga ketat agar tetap otentik, namun tetap ramah bagi wisata keluarga.

​Tak hanya mengandalkan keindahan alam, Banyuwangi juga sangat agresif dalam menyusun kalender kegiatan atau Banyuwangi Attraction. Ratusan festival, mulai dari olahraga, seni budaya, hingga kuliner, digelar sepanjang tahun untuk memastikan wisatawan selalu punya alasan untuk datang.

Sekda yang akrab dipanggil Yayan pun berkelakar mengenai kepadatan agenda tersebut, Dalam satu tahun itu hanya ada 52 minggu, tapi di Banyuwangi ada ratusan even yang digelar.

​Kesuksesan Banyuwangi menjadi pelajaran berharga bahwa pembangunan daerah tidak harus dimulai dari proyek raksasa yang mahal. Sebaliknya, konsistensi dalam menetapkan satu arah pembangunan yang terintegrasi, yang kemudian dijalankan dengan gotong royong lintas sektor, terbukti ampuh mengubah sebuah daerah perlintasan menjadi tujuan utama wisata yang diperhitungkan di kancah nasional maupun internasional.

Sementara itu, bersama Pertamina Regional Indonesia Timur, para jurnalis dari berbagai daerah ini juga diajak membuktikan langsung keindahan wisata dan ragam budaya masyarakat Banyuwangi yang kini telah mendunia. (hil/ain)