BOJONEGORO - Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026 kembali hadir dengan lebih megah dan meriah. Ratusan produk batik, kerajinan, hingga jajanan khas daerah unjuk gigi dalam pameran ekonomi kreatif ini.
Festival yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro itu resmi dibuka pada rabu (17/6/2026). Dihelat secara megah, disaksikan ribuan masyarakat dan dimeriahkan pagelaran budaya.
Sebanyak 69 peserta ambil bagian dalam pameran yang mengusung tema "Wastrane Bojonegoro Membumi lan Ngamboro Ing Bawono" tersebut.
Mereka datang dari pelbagai instansi pemerintah, BUMD hingga UMKM binaan BUMN yang datang sejumlah daerah kabupaten/kota baik dari di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Event ini merupakan strategi Pemkab Bojonegoro memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya sekaligus membuka ruang kolaborasi bagi para perajin, pelaku usaha, komunitas kreatif, hingga dunia industri.
Festival ini menjadi bukti bahwa batik tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya nusantara yang harus dilestarikan, tetapi juga menjadi identitas daerah.
Memasuki area pameran, pengunjung disuguhi deretan stan yang menampilkan aneka produk batik dengan pelbagai warga, motif dan corak yang memanjakan mata.
Tak hanya itu, ada pula kerajinan kriya, hingga karya ekonomi kreatif lainnya. Ragam produk yang dipamerkan menjadi daya tarik tersendiri sekaligus menunjukkan kekayaan budaya dan kreativitas para pelaku usaha dari berbagai daerah.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengatakan, Wastra Batik Bojonegoro merupakan agenda tahunan yang tidak hanya bertujuan melestarikan budaya batik, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat sektor ekonomi kreatif, UMKM, dan pariwisata antar daerah.
Menurut Wahono, batik merupakan warisan budaya yang menyimpan nilai-nilai kearifan lokal di setiap motif dan coraknya.
“Bojonegoro Wastra Batik tahun ini tidak hanya memamerkan kain. Kegiatan ini juga dikemas sebagai sarana edukasi dan bentuk dukungan bagi pelaku ekonomi kreatif serta UMKM dan pariwisata,” kata Wahono.
Ia menambahkan, melalui berbagai rangkaian kegiatan yang digelar, pemerintah daerah ingin memastikan ekosistem batik, khususnya di Bojonegoro dan Jawa Timur, terus tumbuh secara dinamis serta mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar.
Pameran ini juga menjadi wadah yang mempertemukan pelaku ekonomi kreatif, dunia usaha, komunitas, akademisi, hingga masyarakat luas dalam satu ruang kolaborasi yang produktif.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro meluncurkan marketplace digital bernama Dodolan Ekraf.
Platform ini dirancang untuk menghubungkan pelaku ekonomi kreatif dengan pasar yang lebih luas melalui pemanfaatan teknologi digital.
Peluncuran marketplace tersebut menjadi cara jitu Pemkab Bojonegoro dalam mendorong transformasi UMKM dan pelaku ekonomi kreatif dari pola pemasaran konvensional menuju sistem digital yang lebih modern, efektif, dan kompetitif.
Wahono menilai transformasi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari.
Menurut dia, pelaku usaha harus adaptif dan terbuka terhadap perkembangan teknologi agar mampu memperluas jangkauan pasar serta meningkatkan daya saing produk.
“Dengan memanfaatkan teknologi digital, pelaku usaha dapat menjangkau pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Selain peluncuran inovasi digital , rangkaian kegiatan ini juga digelar pendidikan dan pelatihan batik bagi siswa tingkat SD dan SMP, Workshop peningkatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif hingga berbagai hiburan untuk masyarakat yang akan berlangsung mulai tanggal 17 Juni 2026 hingga 20 Juni 2026 mendatang.
Ketua Dekranasda Jawa Timur Arumi Bachsin menyambut positif penyelenggaraan Wastra Batik Bojonegoro Festival 2026.
Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi kreatif dan sektor pariwisata daerah.
Arumi menegaskan, batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan identitas bangsa yang merekam sejarah, filosofi, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat.
“Di setiap lembar kain batik terdapat doa, proses, dan kreativitas para perajinnya,” ujar Arumi.
Ia menilai Bojonegoro yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil energi dan sektor pertanian, kini menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam sektor ekonomi kreatif berbasis budaya.
Hal itu tercermin dari lahirnya berbagai motif khas daerah yang semakin beragam, seperti motif daun jati dan Meliwis Mukti, yang semakin dikenal masyarakat.
Arumi menyebut sektor ekonomi kreatif saat ini menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur, dengan subsektor fesyen sebagai salah satu andalannya. (ss)