BOJONGORO - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mempertegas komitmennya dalam mendukung kedaulatan pangan dengan membidik target ambisius sebagai produsen padi tertinggi di tingkat nasional pada tahun 2028. Visi besar ini disampaikan langsung oleh Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, di sela kegiatan Panen Raya Padi Varietas Gamagora 7 yang berlangsung di Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru, Sabtu (28/2/2026). Kerja sama strategis dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menjadi langkah konkret pemerintah daerah dalam mengintegrasikan inovasi teknologi benih dengan penguatan infrastruktur pertanian guna mendongkrak kesejahteraan petani lokal.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Setyo Wahono menekankan bahwa sektor pertanian tetap menjadi pilar prioritas dalam agenda pembangunannya. Keberhasilan uji coba varietas Gamagora 7 yang mampu menghasilkan hingga 10 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektare dinilai sebagai bukti nyata bahwa pemilihan bibit unggul dan manajemen sumber daya yang tepat dapat memberikan lompatan hasil produksi.
Menurutnya, Bojonegoro memiliki potensi besar untuk menjadi lumbung pangan nasional yang berkelanjutan jika seluruh elemen pendukung, mulai dari ketersediaan air hingga mekanisasi, dapat dikelola secara optimal.
"Cita-cita kami jelas, Bojonegoro harus menjadi lumbung pangan nasional yang berkelanjutan. Produktivitas hari ini menunjukkan bahwa dengan benih unggul dan pengelolaan air yang tepat, hasil panen bisa meningkat signifikan,” ujar Setyo Wahono. Sabtu (28/2/2026).

Guna mencapai target tahun 2028, Pemkab Bojonegoro secara masif melakukan mitigasi terhadap empat tantangan utama petani, yakni manajemen air, pengendalian hama, kualitas benih, serta ketersediaan alat mesin pertanian (alsintan). Setahun terakhir, pemerintah telah membangun jaringan irigasi sepanjang lebih dari 24 ribu meter dan melakukan normalisasi pada puluhan embung serta titik pompa air. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas produksi pangan di tengah fluktuasi cuaca, sekaligus memastikan lahan tetap produktif meski pada musim dengan curah hujan rendah.
"Keunggulan varietas Gamagora 7 yang bersifat adaptif pada lahan kering maupun basah menjadi tumpuan harapan baru bagi petani di Bojonegoro." imbuh Wahono.
Bupati berharap kerja sama dengan UGM dapat terus berkembang, sehingga para petani tidak hanya menjadi pemakai, tetapi juga mampu melakukan pembibitan secara mandiri. Dukungan ini disambut positif oleh pihak UGM yang siap memberikan lisensi terbatas berupa Benih Label Ungu selama tiga tahun agar Bojonegoro dapat memproduksi benih unggul secara berdaulat.
Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan menunjukkan tren positif yang signifikan, di mana produksi padi Bojonegoro pada tahun 2025 tercatat mencapai 886.443 ton, atau melonjak 24,7 persen dari tahun sebelumnya. Capaian ini menjadi modal kepercayaan diri bagi pemerintah daerah untuk terus mengawal intensifikasi pertanian. Dengan karakter varietas Gamagora 7 yang tahan terhadap hama wereng dan penyakit blast serta memiliki cita rasa pulen, Bojonegoro optimis dapat menembus jajaran puncak produsen padi nasional dalam dua tahun mendatang. (Red)