BOJONEGORO - Daffa Ardian Pratama, bocah kelas 3 SDN 1 Dander yang mendadak viral karena kecerdasan luar biasanya. Daffa yang dikenal sebagai bocah mahir dalam bidang elektronik asal Desa Growok, Kecamatan Dander, Bojonegoro, baru saja mendapat perhatian khusus dari Kapolres Bojonegoro AKBP Afrian Satya Permadi yang berkunjung ke rumahnya. Sabtu (11/4/2026).

​Namun di balik bakat besarnya, terselip cerita unik yang sempat membuat orang tuanya pusing. Daffa dikabarkan sempat mogok sekolah gara-gara gurunya tidak mampu menjawab pertanyaan teknis yang ia ajukan. Dengan polosnya, bocah ini mencecar sang guru mengenai fungsi busi pada kendaraan, sebuah pertanyaan yang jarang terpikirkan oleh anak seusianya.

​Ayah Daffa, Andik Sujianto, mengungkapkan bahwa kehausan ilmu anaknya memang sudah terlihat sejak usia tiga tahun. Saat balita lain menonton kartun, Daffa justru asyik memelototi tutorial pembuatan robot dan cara kerja mesin di YouTube.

Meski saat itu belum bisa baca tulis, Daffa sudah mahir menggunakan fitur suara untuk mencari konten yang diinginkan.

​"Diusia itu dia belum bisa baca tulis, tapi sudah bisa pakai voice di YouTube. Kalau apa yang ingin dia cari tapi ternyata tidak sesuai, protes dia. Dia sukanya lihat cara buat robot, mesin-mesin kayak gitu. Nilai sekolahnya memang cenderung biasa saja karena ia kurang tertarik dengan metode formal dan lebih memilih praktik langsung," kata Andik Sujianto.

Kapolres Afrian sambangi Daffa di rumahnya. Sabtu (11/4/2026)

​Melihat potensi besar namun spesifik ini, AKBP Afrian Satya Permadi datang membawa kado spesial berupa satu unit laptop. Kapolres menyadari bahwa anak-anak seperti Daffa adalah aset masa depan yang harus diarahkan dengan tepat, terutama dalam menghadapi era otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) menuju Indonesia Emas 2045.

​"Alhamdulillah ternyata di Bojonegoro kita mempunyai anak yang berbakat tentu saja ini perlu kita jaga dan kita bimbing ke arah yang baik. Tantangan masa depan yaitu otomatisasi maupun AI membutuhkan anak-anak bangsa yang cerdas seperti Daffa. Tugas kita bersama untuk membimbing Daffa sehingga nanti bisa menjadi cerdas dan bermanfaat," ujar AKBP Afrian Satya Permadi.

​Kapolres Afrian juga menekankan pentingnya pengawasan, mengingat Daffa bahkan pernah meracik bubuk mercon sederhana. Perhatian ini diberikan agar bakat teknisnya tidak melenceng ke arah yang membahayakan.

" Kami meminta keterlibatan semua pihak, mulai dari orang tua, sekolah, hingga pemerintah untuk mengasah kemampuan Daffa."imbuh Kapolres Afrian.

​Kepala SDN 1 Dander, Nanik Yuni Prasetyani, mengakui bahwa sekolah memang mengalami tantangan dalam menangani anak istimewa seperti Daffa. Pihak sekolah merasa kurikulum yang ada belum mampu mewadahi rasa ingin tahu Daffa yang sangat teknis.

​"Kemampuan Daffa itu memang di luar kurikulum yang kami miliki dan membutuhkan metode pembelajaran khusus. Sebenarnya perlu pendamping yang khusus sehingga dapat mewadahi kemampuan ananda Daffa. Jadi yang kami sediakan adalah memfasilitasi sesuai kemampuan kami yang ada di sekolah," tutur Nanik.

​"Kalau ditanya cita-cita Daffa apa? Pengen jadi insinyur. Dia ingin jadi penemu alat-alat baru yang bermanfaat bagi banyak orang," pungkas Andik.