BOJONEGORO — Medhayoh yang berlangsung di Desa Cengkir, Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro (12/08/2026), menjadi ajang curhat para peternak ayam program Gayatri kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Keluhan terkait tingginya biaya operasional dan turunnya produksi telur langsung direspons pemerintah dengan program kucuran pakan bersubsidi.
Dalam forum tersebut, warga Desa Ngranggon Anyar, Kecamatan Kepohbaru, Muhamad Naim, blak-blakan menyampaikan kendala yang dihadapi para peserta program di lapangan.
"Program Gayatri yang dapat ngelu (pusing), telurnya menurun, harga pakannya tinggi," ujar Naim di hadapan jajaran pemerintah daerah.
Menanggapi keluhan tersebut, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menjelaskan bahwa program Gayatri sejatinya dirancang untuk mengatasi ketimpangan pasokan telur daerah. Menurutnya, potensi pasar telur di Bojonegoro sangat besar namun belum tergarap maksimal oleh peternak lokal.
"Kebutuhan telur di Bojonegoro baru bisa kita penuhi 25 persen, sementara 75 persen sisanya masih mendatangkan dari luar kabupaten. Maka dari itu kami memilih fokus pada program ayam Gayatri ini," kata Setyo Wahono.
Bupati Wahono membeberkan, tekanan hebat mulai dirasakan peternak usai momen Lebaran 2026. Skema margin keuntungan peternak terganggu akibat lonjakan harga pakan mentah yang tidak seimbang dengan harga jual telur di pasaran.
"Awalnya harga telur Rp23 ribu sampai Rp24 ribu per kilo, dengan pakan Rp6 ribu per kilo. Tapi habis Lebaran 2026, kenaikan harga pakan luar biasa sampai Rp8 ribu, sementara harga telur tetap. Itu membuat semua sempat kolaps," jelasnya.
Sebagai solusi konkret atas kondisi gawat tersebut, Pemkab Bojonegoro menggandeng Pangan Mandiri untuk memangkas beban produksi peternak melalui skema subsidi.
"Alhamdulillah ada terobosan dari Pangan Mandiri untuk menyediakan pakan dengan harga subsidi Rp7 ribu per kilo," pungkas Bupati.
Melalui penyesuaian harga pakan ini, Pemkab Bojonegoro menargetkan tingkat produksi telur peternak Gayatri dapat kembali pulih.