BOJONEGORO - Langit Desa Belun, Kecamatan Temayang, siang ini mendadak kelabu. Deru arus sungai pacal yang biasanya menjadi sahabat alam bagi warga, berubah menjadi saksi bisu sebuah tragedi memilukan yang menyayat hati. Dua bocah kembar Rendy Wijaya dan Rindi Wijaya harus mengembuskan napas terakhir di pelukan arus sungai yang dingin, Jumat (30/1/2026).

Jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Dengan tawa khas anak-anak berusia empat tahun, Rendy dan Rindy melangkah menuju sungai ditemani seorang temanya. Di benak mereka, siang itu hanyalah tentang kegembiraan mencari ikan kecil di antara bebatuan. Namun, maut mengintai di balik riak air.

​Petaka bermula saat kaki mungil Rindy terpeleset. Dalam sekejap, tubuh kecilnya terhempas ke dalam air. Ia berjuang, namun permukaan air terlalu tinggi sehingga bocah ini terpeleset dan tenggelam.

Melihat adik perempuannya timbul tenggelam berjuang melawan maut, sang kakak yang bernama Rendy tidak tinggal diam. Tanpa ragu dan tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, ia menjulurkan tangan, terjun ke dalam derasnya arus sungai Pacal demi menyelamatkan separuh jiwanya.

​"Kakaknya mau menolong, tapi arusnya terlalu deras. Akhirnya, cinta itu justru membawa mereka pergi bersama-sama ke dasar sungai," kenang YS, salah satu warga dengan wajah sedih.

Niat suci sang kakak untuk menjadi pelindung adiknya harus berakhir tragis. Kekuatan arus sungai mengalahkan raga kecil mereka.

Suasana sunyi desa setempat, seketika pecah oleh teriakan minta tolong dari teman korban yang berlari ketakutan. Warga, aparat, dan tim gabungan segera menyisir sungai dengan harapan kedua korban bisa ditemukan dengan selamat.

​Namun, takdir berkata lain. Sekitar 30 menit pencarian yang mencekam, kedua tubuh mungil itu ditemukan tak jauh dari lokasi awal mereka bermain. Mereka ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, seolah enggan terpisahkan bahkan dalam maut sekalipun.

​Kini, RT 02 RW 01 Desa Belun diselimuti duka mendalam. Kepergian si kembar Rendy dan Rindy menjadi pengingat pahit bagi setiap orang tua tentang betapa rapuhnya nyawa di hadapan alam yang tak terduga. (ar/sam)