BOJONEGORO - Percakapan yang diduga melibatkan seorang siswa SMKN 1 Baureno berinisial P dengan pihak sekolah ramai diperbincangkan di media sosial setelah diunggah akun Instagram Lingkar Bojonegoro @lingkarjonegoro.

Isi tangkapan layar tersebut memuat keluhan mengenai sejumlah pembayaran, mulai dari uang gedung, sumbangan biaya pendidikan (SPP), hingga polemik pengambilan ijazah bagi siswa yang belum melunasi tanggungan.

Dalam percakapan yang beredar, siswa berinisial P mempertanyakan kebijakan sekolah terkait pembayaran yang sebelumnya disebut menjadi syarat pengambilan ijazah. P mengaku bingung lantaran terdapat informasi bahwa siswa yang belum melunasi kewajiban tidak dapat menerima ijazah.

“Saat wisuda kemarin pihak sekolah minta tanggungan selama kelas 10 dan 11 dilunasi dan bayar SPP kelas 12 sekitar 1,5 juta, itu gapapa nyicil setengahnya kalau ga nyicil nanti kegiatan sekolah semua ditiadakan,” keluhnya.

Selain itu, terdapat pula keluhan mengenai pembayaran yang disebut tanpa kuitansi resmi dan adanya nominal biaya berbeda sesuai jurusan.

“Kalau sebagian siswa bayar ya semua harus bayar kasihan yang udah bayar biaya nya juga ga sedikit, katanya buat uang sumbangan juga masak uang sumbangan harus nuntut nominalnya. Tadi saat bayar juga kwitansi ga dikasih min cuma dicatat aja,” sambung P.

Dalam tangkapan layar lainnya, nampak P mempertanyakan hal tersebut, ke salah satu pihak sekolah. Namun, perempuan yang belum diketahui identitasnya itu, menyebut semua ijazah diserahkan, namun yang belum menyelesaikan tanggungan akan dianggap sebagai hutang.

“Semua dikasihkan, tapi yang belum bayar tetep masih punya tanggungan..sama dengan hutang, berarti harus dibayarkan. Sekolah tidak boleh nahan ijasah,” balas perempuan yang diduga salah satu guru di SMKN Baureno itu.

Menanggapi hal itu, Kepala SMKN 1 Baureno, Dedy Widodo, membantah adanya pungutan SPP sebagaimana ramai dibicarakan. Ia menegaskan, sekolah tidak menerapkan pembayaran SPP dan tidak pernah melakukan penagihan kepada siswa.

“Sudah klarifikasi ke Kacabdin. Intinya memang tidak ada SPP, sifatnya sukarela bagi yang mampu, dan tidak nagih,” ujar Dedy saat dikonfirmasi, Minggu (14/6/2026).

Dedy juga memastikan seluruh ijazah siswa telah diserahkan dan tidak ada kebijakan penahanan dokumen kelulusan di sekolah yang dipimpinnya.

“Semua ijazah sudah diserahkan. Sudah saya sampaikan juga kepada para guru, jangan sampai ada nahan ijazah sama sekali,” tegasnya.

Perihal tangkapan layar yang diduga salah satu guru di SMKN Baureno tersebut, Dedy mengaku belum mengetahui secara pasti siapa guru tersebut. Pihaknya akan mengkonfirmasi lebih lanjut pada Senin (15/6) besok.

“Belum tahu, siapa (guru) yang terdapat dalam chatting tersebut, baru akan saya konfirmasi besok. Sekarang masih libur kerja,” pungkasnya.

(hil)