BOJONEGORO – Warga Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, meluapkan kekesalannya terhadap kondisi jalan poros desa yang rusak dan tak kunjung diperbaiki selama bertahun-tahun. Bentuk protes itu dilakukan dengan cara menanam pohon pisang di sepanjang ruas jalan yang mengalami kerusakan parah.
Aksi tersebut menjadi simbol kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah yang dinilai kurang responsif terhadap infrastruktur jalan desa yang menjadi urat nadi aktivitas warga sehari-hari.
Salah seorang warga, Aziz, mengungkapkan bahwa kerusakan terjadi pada jalan paving poros desa dengan panjang mencapai belasan kilometer. Jalan tersebut merupakan akses utama warga, baik untuk menuju lahan pertanian maupun aktivitas ekonomi lainnya.
“Kalau musim hujan, air menggenang di banyak titik. Malam hari sangat rawan karena lubang jalan tidak kelihatan,” kata Aziz, Sabtu (17/1/2026).
Ia menambahkan, penanaman pohon pisang sengaja dilakukan agar kondisi jalan tersebut mendapat perhatian serius, baik dari pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten. Apalagi, jarak lokasi jalan hanya sekitar 10 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Bojonegoro.
“Kami hanya berharap jalan ini segera diperbaiki supaya warga bisa beraktivitas dengan aman,” ujar Aziz.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Ngumpakdalem, Ahmad Burhani, membenarkan adanya aksi protes dari warganya. Ia menyebutkan bahwa langkah warga tersebut merupakan luapan kekecewaan atas kondisi jalan yang tak kunjung tertangani.
Meski begitu, pihak pemerintah desa memastikan akan melakukan langkah penanganan sementara dengan menutup lubang-lubang jalan menggunakan material pedel agar mobilitas warga tetap berjalan.
“Kami terbuka dengan kritik dari masyarakat. Hari ini juga direncanakan dilakukan penimbunan di titik-titik jalan yang rusak,” kata Burhani.
Burhani juga menjelaskan bahwa jalan yang diprotes warga berstatus sebagai jalan desa. Keterbatasan anggaran, kata dia, menjadi kendala utama untuk melakukan pembangunan secara menyeluruh.
“Luas wilayah Desa Ngumpakdalem sangat besar, sementara anggaran desa hanya sekitar Rp300 juta. Tentu tidak cukup untuk membangun jalan poros desa sepanjang belasan kilometer,” jelas Burhani.
Ia pun berharap rencana pemekaran Desa Ngumpakdalem yang pernah diwacanakan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dapat segera terealisasi. Pasalnya, desa tersebut merupakan salah satu wilayah terluas di Bojonegoro dengan luas mencapai 798,283 hektare, terdiri dari lima dusun dan berpenduduk sekitar 13.439 jiwa. (sam)