Ramadhan senantiasa menitipkan satu pesan fundamental bagi setiap jiwa yang beriman. Bahwa ketakwaan yang sejati harus mampu melahirkan kepedulian sosial yang nyata.
Puasa bukanlah sekadar ritual menahan lapar dan dahaga yang bersifat mekanistik, melainkan sebuah proses dialektis untuk menumbuhkan empati, menggerakkan solidaritas, dan mendorong perubahan transformatif dalam kehidupan masyarakat.
Spirit inilah yang nampak jelas saat Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, meluncurkan gerakan “Kolaborasi Indonesia Berdaya” di Masjid Istiqlal dengan tema besar “Pulih Bersama, Bangkit Berdaya”.
Pesan yang disampaikan Gus Muhaimin tersebut sejatinya adalah resonansi dari nilai-nilai Ramadhan yang paling dalam: membangun sinergi antara otoritas pemerintah dan lembaga filantropi untuk menghadirkan pemberdayaan yang lebih efektif dan presisi.
Dalam tradisi Islam, Ramadhan adalah bulan berbagi, namun berbagi yang diajarkan bukanlah sekadar aksi karitatif yang memanjakan.
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat 92 bahwa kebajikan yang sempurna hanya akan tercapai ketika kita menafkahkan harta yang paling kita cintai.
Ayat ini bukan sekadar anjuran bersedekah, melainkan sebuah komitmen serius dalam membangun kesejahteraan yang berkelanjutan.
Data memang menunjukkan angka kemiskinan nasional telah melandai hingga 8,25 persen per September 2025, sebuah capaian yang patut kita syukuri bersama.
Namun, sebagaimana diingatkan oleh Gus Muhaimin, angka statistik ini belumlah cukup jika tidak diiringi dengan strategi pemberdayaan yang berkesinambungan. Kemiskinan tidak boleh dibiarkan membeku menjadi realitas struktural, kultural, apalagi menjadi warisan turun-temurun yang dianggap sebagai garis takdir.
Sebagai Ketua DPRD Bojonegoro, saya memandang visi kolaborasi pusat ini sangat relevan untuk dibumikan hingga ke tingkat daerah. DPRD memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa semangat kerja sama ini benar-benar terimplementasi secara organik dalam kebijakan anggaran dan regulasi.
Ramadhan mengajarkan bahwa kekuatan kolektif jauh lebih dahsyat daripada kerja sektoral yang terfragmentasi. Instrumen filantropi seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf yang telah lama hidup dalam tradisi umat harus disinergikan dengan program pemerintah daerah.
Sesuai perintah Allah dalam Surat Al-Ma’idah ayat 2 untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan, kolaborasi kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan perintah agama dan kebutuhan tata kelola modern.
Pemerintah tidak bisa berjalan sendirian; dunia usaha, lembaga sosial, dan masyarakat sipil harus duduk sejajar sebagai mitra pembangunan yang setara.
Di Bojonegoro, jalan kolaborasi ini dapat kita wujudkan dalam berbagai bentuk konkret, mulai dari penguatan UMKM berbasis masjid, pelatihan keterampilan bagi keluarga prasejahtera, hingga sinkronisasi data zakat dengan program pengentasan kemiskinan daerah.
Kita juga memerlukan respons cepat terhadap potensi bencana agar setiap musibah tidak melahirkan kemiskinan baru. Mengingat sabda Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya, maka azas manfaat inilah yang harus menjadi tolok ukur utama setiap kebijakan publik.
Bagi kami, APBD bukan sekadar dokumen tumpukan angka, melainkan instrumen keberpihakan. Begitu pula legislasi, ia bukan hanya produk hukum yang kaku, melainkan jalan untuk menghadirkan keadilan sosial yang merata.
Ramadhan 1447 H ini harus kita jadikan momentum emas untuk memperkuat keyakinan bahwa kemiskinan adalah tantangan yang harus dilawan dengan strategi dan keberpihakan yang nyata.
Puasa telah melatih kita untuk menahan ego sektoral, mengajarkan kesabaran dalam berproses, dan membentuk empati terhadap kaum yang lemah. Jika nilai-nilai ini diinternalisasikan ke dalam sistem pemerintahan, maka pemberdayaan masyarakat tidak akan lagi menjadi slogan kosong, melainkan sebuah gerakan nasional yang hidup.
Kita ingin melihat masyarakat yang bukan hanya tangan di bawah, tetapi mampu berdiri mandiri. Kita ingin melihat keluarga yang bukan hanya sekadar bertahan hidup, tetapi mampu berkembang dan berdaya.
Semoga energi spiritual bulan suci ini memperluas jalan kolaborasi kita demi mewujudkan Bojonegoro dan Indonesia yang lebih sejahtera.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.