BOJONEGORO – Sebanyak 246 peristiwa kebakaran tercatat terjadi di Kabupaten Bojonegoro sepanjang tahun 2025. Data tersebut menunjukkan bahwa kasus kebakaran masih menjadi ancaman serius, terutama di kawasan permukiman warga.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Bojonegoro mencatat, ratusan kejadian tersebut sebagian besar dipicu oleh gangguan kelistrikan dan kebocoran gas LPG pada instalasi rumah tangga maupun peralatan pendukung lainnya.
Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Damkarmat Bojonegoro, Ahmad Agus Salim, menyampaikan bahwa faktor teknis masih menjadi penyebab dominan dalam tingginya angka kebakaran selama setahun terakhir.
“Dari total 246 kejadian kebakaran selama tahun 2025, penyebab paling dominan masih didominasi fenomena kelistrikan dan kebocoran tabung gas LPG. Kejadian ini sebagian besar terjadi di kawasan permukiman warga,” ungkap Agus, Selasa (30/12/2025).
Berdasarkan rekap data Damkarmat, objek kebakaran meliputi rumah tinggal, meteran listrik, tabung gas LPG, hingga bangunan usaha serta fasilitas umum lainnya. Meski jumlah kejadian cukup tinggi, total kerugian material akibat kebakaran sepanjang 2025 ditaksir mencapai sekitar Rp7,3 miliar.
Di sisi lain, upaya pemadaman dan penyelamatan yang dilakukan petugas berhasil menekan dampak lebih luas. Nilai aset yang dapat diselamatkan dari ratusan kejadian tersebut diperkirakan mencapai lebih dari Rp293 miliar.
“Sementara nilai aset yang berhasil diselamatkan diperkirakan mencapai lebih dari Rp293 miliar,” jelas Agus.
Agus menambahkan, kecepatan respons petugas menjadi salah satu kunci dalam menekan dampak kebakaran. Namun, ia mengakui masih terdapat sejumlah kejadian yang terkendala waktu tanggap akibat jarak lokasi dan kondisi wilayah.
“Upaya pencegahan terus kami dorong melalui sosialisasi kepada masyarakat, khususnya terkait keamanan instalasi listrik dan penggunaan gas LPG yang aman, agar jumlah kejadian kebakaran dapat ditekan di tahun berikutnya,” pungkasnya. (sam)