BOJONEGORO - Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Bojonegoro pada Selasa (10/2/2026) petang memicu meluapnya Sungai Pacal. Akibatnya, enam desa di Kecamatan Kapas terdampak genangan air yang berasal dari sungai berhulu di Waduk Pacal tersebut.
Data yang dihimpun dari Pusdalops TRC BPBD Bojonegoro menyebutkan, hujan dengan intensitas tinggi terjadi mulai pukul 18.00 hingga 20.00 WIB. Sekitar pukul 21.00 WIB, warga mulai melaporkan adanya luapan air, dan petugas langsung turun ke lapangan untuk melakukan asesmen.
Adapun desa yang terdampak meliputi Desa Kapas, Plesungan, Mojodeso, Tanjungharjo, Bakalan, dan Tikusan.
Di Desa Kapas, sedikitnya 28 rumah warga di RT 02, RT 03, RT 04, RT 09, dan RT 11 tergenang air. Sementara di Desa Mojodeso, banjir merendam 40 rumah yang tersebar di delapan RT.
Genangan juga terjadi di Desa Tanjungharjo dengan total 16 rumah terdampak. Ketinggian air di wilayah ini berkisar antara 20 hingga 40 sentimeter. Tak hanya permukiman, ruas Jalan PUK Kedaton-Tanjungharjo sepanjang kurang lebih 100 meter ikut terendam dengan ketinggian sekitar 20 sentimeter.
Di Desa Plesungan, air menggenangi jalan lingkungan di RT 3 dan RT 12 dengan tinggi air antara 5 sampai 10 sentimeter.
Sementara itu, Desa Bakalan menjadi salah satu wilayah dengan jumlah rumah terdampak cukup banyak. Sebanyak 112 rumah dari sembilan RT sempat terendam. Meski demikian, hingga laporan terakhir, genangan tersisa di sekitar 15 rumah dan kondisi air berangsur surut.
Desa Tikusan tercatat sebagai wilayah dengan dampak paling luas. Sebanyak 142 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 10 RT terdampak banjir. Hingga Rabu (11/2/2026) pagi sekitar pukul 09.00 WIB, sejumlah rumah masih tergenang, namun debit air terus menunjukkan penurunan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi, mengatakan pihaknya langsung merespons laporan warga dengan menerjunkan personel ke lokasi.
“Laporan kami terima sekitar pukul 21.00 WIB. Tim segera kami kirim untuk melakukan assessment dan memastikan kondisi warga. Fokus utama kami adalah keselamatan masyarakat serta memantau perkembangan debit air,” ujar Heru Wicaksi.
Menurut Heru, sebagian besar genangan mulai surut pada malam hari sekitar pukul 23.00 WIB. Meski begitu, pemantauan tetap dilakukan, khususnya di Desa Bakalan yang masih terdapat rumah warga yang tergenang.
Ia menambahkan, hingga kondisi berangsur normal, warga masih bertahan di rumah masing-masing. BPBD juga mengingatkan masyarakat agar tetap siaga terhadap kemungkinan hujan susulan.
“Kami mengimbau warga untuk terus waspada karena potensi hujan dengan intensitas tinggi masih bisa terjadi,” tandasnya. (sam)