BOJONEGORO – Mega proyek pembangunan pelindung tebing Sungai Bengawan Solo di Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, kembali menjadi sorotan publik.
Proyek yang dibiayai oleh APBD Pemkab Bojonegoro senilai hampir Rp40 miliar pada tahun 2024 tersebut, dilaporkan mengalami kerusakan serius atau sliding sepanjang 40 hingga 50 meter.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Minggu (25/1/2026), kerusakan terjadi di dua lokasi berbeda, yakni di Desa Lebaksari dan Desa Tanggungan. Kondisi paling parah terlihat di sisi timur yang masuk wilayah Desa Lebaksari dengan panjang kerusakan mencapai 40 meter. Sementara itu, di sisi barat (Desa Tanggungan), kerusakan terjadi sepanjang kurang lebih 15 meter.
Sejumlah tiang pancang yang tertanam mengalami kemiringan signifikan dan ambruk ke arah bantaran sungai. Balok beton pengunci tebing terlepas dan patah karena tidak mampu menahan beban tanah dan pergeseran struktur.
Seorang warga berinisial MM, menyatakan keprihatinannya atas kualitas proyek tersebut. Menurutnya, kegagalan struktur ini sangat disayangkan mengingat anggaran yang dikucurkan sangat besar.
"Kondisinya rusak parah. Kami warga tidak tahu proses perencanaannya seperti apa. Padahal ini tujuannya menahan tanah dari luapan air. Harusnya sudah melalui kajian teknik dan perencanaan detail, tapi nyatanya tidak kuat," ujar MM kepada suarasatu.com.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PUSDA), Helmi Elizabeth, membenarkan adanya insiden ini. Ia menjelaskan bahwa lokasi yang mengalami sliding saat ini merupakan titik baru yang berbeda dari kerusakan sebelumnya pada awal 2025.
"Secara umum dari titik lokasi yang mengalami sliding di awal Januari 2025 sudah dilakukan perbaikan. Namun menjelang akhir masa pemeliharaan tanggal 17 Desember 2025, terjadi sliding di luar lokasi yang diperbaiki," jelas Helmi.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan kontraktor pelaksana dari PT Indopenta Bumi Permai (IBP), Ardiyana, menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas PUSDA untuk melakukan langkah perbaikan ulang.
Ini bukan pertama kali proyek sepanjang 980 meter tersebut mengalami masalah. Pada Akhir 2024 proyek sempat ambruk sepanjang 250 hingga 270 meter tak lama setelah tuntas dikerjakan. Dan akhirnya dilakukan perbaikan selama 12 bulan oleh kontraktor rekanan pemenang Proyek PT Indopenta Bumi Permai asal Surabaya.
Sementara itu, pada awal 2025, peristiwa ini sempat menarik perhatian beberapa kalangan diantaranya, Polda Jatim, BPK, hingga DPRD Bojonegoro yang turun langsung ke lokasi untuk melakukan audit dan pengecekan. (ar/sam)