BOJONEGORO - Pembangunan infrastruktur jalan di Desa Ngampal, Kecamatan Sumberrejo, Bojonegoro, kini menuai kecaman setelah ditemukan berbagai penyimpangan dalam pengerjaannya.
Kepala Desa Ngampal, Budiyanto, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil monitoring dan arahan dari pihak inspektorat, jalan tersebut tidak cukup hanya diperbaiki biasa, melainkan harus dilakukan pengerukan dan pembongkaran secara total untuk kemudian dibangun kembali dari awal.
Langkah tegas ini diambil mengingat kondisi jalan yang rusak parah meskipun baru saja selesai dibangun. Budiyanto menyebutkan bahwa nilai proyek infrastruktur ini tidak main-main, yakni mencapai sekitar Rp 2 miliar. Dengan anggaran sebesar itu, ia sangat menyayangkan hasil pengerjaan yang amburadul. Budiyanto menduga kuat kerusakan dipicu oleh kualitas bahan pondasi atau beskos yang tidak memadai sejak awal pengerjaan.
Budiyanto membeberkan bahwa proyek jalan di desanya tersebut dikerjakan oleh rekanan CV Winarni Syahputra yang berasal dari Desa Drajat, Kecamatan Baureno, Bojonegoro, sementara pasokan aspal didatangkan dari Tuban.
Selain itu, dalam sidak yang dipimpin Wabup Nurul, ketua tim pelaksana mengaku jika semua pekerjaan diserahkan oleh rekanan asal Drajat, oleb pak kades.
" Semua dikerjakan CV, katanya diatas 200 juta harus CV. uang lho semua diberikan kesana oleh pak kades. Hanya kita itu diberi kerjaan pasang barem katel," ucap Sungkowo di lokasi proyek.jumat (27/2/2026).

Keterbukaan informasi ini disampaikan menyusul kekecewaan warga dan timlak atas kualitas pekerjaan yang dianggap jauh dari standar.
Kecurigaan mengenai buruknya kualitas jalan tersebut terbukti saat Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Dalam sidak tersebut, tim menemukan fakta lapangan yang mengejutkan, di mana ketebalan aspal hanya berkisar antara 5 hingga 6 sentimeter serta kualitas lantai pengerjaan yang sangat buruk. (red)