​Bojonegoro - Pedagang di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Wisata, Bojonegoro, mengeluhkan kondisi pasar yang sepi pembeli setelah dua pekan beroperasi. Para pedagang mendesak Pemerintah Kabupaten Bojonegoro segera menertibkan pedagang lain yang memilih berjualan di lokasi di luar kesepakatan awal.

​Keluhan tersebut mencuat dalam rapat kerja Komisi B DPRD Bojonegoro bersama perwakilan Paguyuban Pedagang Pasar Tradisional Kota Bojonegoro, Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro, serta Dinas PKP Cipta Karya, Jumat (17/7).

​Pendamping sekaligus kuasa hukum Paguyuban Pedagang Pasar Kota Bojonegoro (PPPKB), Agus Susanto Rismanto, mengungkapkan bahwa kekecewaan para pedagang bermula dari inkonsistensi lokasi TPS. Menurutnya, kesepakatan awal menetapkan Pasar Wisata sebagai lokasi terpusat, namun kenyataannya pedagang justru terpecah menjadi empat titik, yakni di Pasar Wisata, Pasar Banjarejo, Pasar Burung, dan lokasi mandiri di sekitar Kaca Sasmito.

​"Saat akan pindah mereka (pihak Pemkab) tidak konsisten lagi, membuat undian TPS di Pasar Banjarejo. Ini kan mengacaukan situasi. Kita berharap komitmen sejak awal dipegang. Ketika para pedagang itu berkumpul dan tidak pecah maka pasar akan jadi ramai. La, sekarang ini kan menjadi empat," ujar Agus Rismanto.

​Ia menegaskan, Bupati dan Wakil Bupati sejatinya telah menginstruksikan agar TPS dipusatkan di Pasar Wisata. Oleh karena itu, pihaknya meminta aturan ditegakkan agar seluruh pedagang kembali ke satu lokasi.

​Menanggapi hal itu, Kepala Dindagkopum Kabupaten Bojonegoro, Moh. Akhmadi, membenarkan adanya persebaran lokasi tersebut. Ia menyebut pihaknya saat ini masih mengedepankan pendekatan persuasif kepada para pedagang. Namun, ia memastikan akan ada tindakan tegas jika imbauan pemerintah tidak diindahkan.

​"Mereka juga masyarakat kita, pendekatan persuasif dulu. Jika tidak diindahkan yaa apa boleh buat, kita akan melakukan tindakan tegas. Terutama para pedagang lesehan itu. (Untuk pedagang lesehan di bahu jalan) akan menindak tegas karena proses pembangunan akan berjalan maka lokasi wajib bersih tanpa pedagang," ujar Akhmadi.

​Sementara itu, Wakil Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro, Lasuri, menyoroti pentingnya komitmen bersama untuk menjaga keramaian pasar. Ia menegaskan bahwa lokasi di Pasar Wisata dipilih melalui proses voting oleh pedagang sendiri. Untuk mengatasi masalah ini, Komisi B menargetkan agar seluruh pedagang, termasuk yang berada di Pasar Banjarejo, segera pindah ke Pasar Wisata paling lambat akhir Juli.

​"Ini menjadi komitmen bersama, namun saat pembangunan pasar akan dimulai malah terjadi beberapa lokasi. Dari situ terjadi kegelisahan dari para pedagang yang menempati TPS Pasar Wisata sekarang menjadi sepi, karena pedagang tidak kumpul jadi satu di sana. Harus kembali pada komitmen bersama untuk menempati Pasar Wisata supaya kumpul bersama bisa ramai sehingga dagangnya akan laku," pungkas Lasuri. (hil)