BOJONEGORO - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro tak ingin membiarkan para petani 'menjerit' akibat kekeringan di puncak Musim Tanam III (MT III). Lewat Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA), Pemkab Bojonegoro langsung tancap gas melakukan aksi gerak cepat memitigasi risiko kekeringan lahan pertanian dengan membangun dan menormalisasi puluhan embung, waduk, hingga jaringan irigasi secara masif di berbagai wilayah kecamatan.
Langkah taktis dan adaptif ini sengaja digenjot demi mengamankan stabilitas pasokan air baku bagi para petani, menekan risiko penyusutan volume air, serta membentengi ketahanan pangan daerah agar tetap tangguh menghadapi ancaman kemarau ekstrem.
Kepala Dinas PU SDA Kabupaten Bojonegoro, Retno Wulandari, menegaskan bahwa seluruh program intervensi infrastruktur air ini didasarkan pada prinsip pemetaan wilayah yang tepat sasaran dan berorientasi jangka panjang. Pihaknya tidak hanya melakukan pemeliharaan rutin, tetapi melakukan langkah intervensi taktis dan adaptif.
"MT III adalah periode krusial bagi para petani kita. Oleh karena itu, perluasan daya tampung air melalui optimalisasi embung, waduk, dan normalisasi sungai terus kami pacu agar debit air yang terbatas dapat terdistribusi secara adil dan lancar hingga ke ujung saluran (end of canal). Komitmen kami adalah meminimalkan risiko gagal panen dan menjaga stabilitas ketahanan pangan masyarakat Bojonegoro," ujar Retno. Minggu (19/7/2026).
Untuk memperluas kapasitas cadangan air baku pada Tahun Anggaran 2026 ini, Dinas PU SDA mengombinasikan pembangunan baru dengan revitalisasi infrastruktur eksisting. Saat ini, dinas terkait tengah merampungkan normalisasi Embung Desa Sambongrejo di Kecamatan Sumberrejo dan Embung Desa Pojok di Kecamatan Purwosari. Tak hanya itu, pengerjaan proyek embung baru di Desa Sumberagung (Kecamatan Dander) dan Desa Woro (Kecamatan Kepohbaru), serta normalisasi embung Sumbergede (Kecamatan Kepohbaru) juga terus dikebut.
Pemerintah daerah bahkan sudah menyiapkan cetak biru jangka panjang melalui rencana pembangunan Waduk Pasinan di Kecamatan Baureno, Waduk Watang di Kecamatan Tambakrejo, hingga rehabilitasi Waduk Rowoglandang di Kecamatan Tambakrejo.
Di sektor aliran air, akselerasi normalisasi sungai dan saluran pembuang (afvoer) ikut dipacu guna memperbesar kapasitas irigasi sekaligus memitigasi genangan jika terjadi anomali cuaca. Proyek normalisasi sungai menyasar Desa Gondang dan Desa Senganten di Kecamatan Gondang, serta Desa Duyungan di Kecamatan Sukosewu. Proses pengerjaan juga sedang menyentuh Sungai Gandong di Desa Ngrejeng (Kecamatan Purwosari), ditambah normalisasi saluran afvoer di tiga titik kritis, yakni Desa Kayulemah (Kecamatan Sumberrejo), Desa Sidomulyo (Kecamatan Kedungadem), dan Desa Tinumpuk (Kecamatan Purwosari).
Agar air mengalir efisien tanpa menyusut akibat rembesan atau sedimentasi, ekspansi dan rehabilitasi jaringan irigasi digulirkan secara besar-besaran. Pembangunan jaringan irigasi baru tersebar di puluhan titik, mulai dari Kecamatan Balen (5 titik), Trucuk (4 titik), Gondang dan Baureno (masing-masing 3 titik), hingga wilayah Padangan, Ngraho, Dander, Kedungadem, Kalitidu, dan Sekar yang masing-masing mendapat jatah 2 titik, serta Kasiman, Kedewan, Bojonegoro, dan Kanor masing-masing 1 titik.
Sementara itu, rehabilitasi saluran irigasi eksisting difokuskan untuk memulihkan performa jaringan di Kecamatan Padangan (5 titik), Dander (4 titik), Tambakrejo (2 titik), serta Trucuk, Kedewan, Bubulan, dan Ngraho masing-masing 1 titik.
Melalui kombinasi perluasan tampungan embung atau waduk, pembersihan aliran sungai atau afvoer, serta penataan jaringan irigasi yang masif lintas sektor ini, Retno Wulandari berharap langkah tersebut dapat berjalan optimal dan efektif membantu memenuhi kebutuhan kelancaran air irigasi untuk sektor pertanian di Bojonegoro. (hil)