BOJONEGORO – Warga di Desa Deling, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro mengeluhkan kondisi jalan makadam yang merupakan penghubung antar desa rusak parah.

Terdapat sekitar 400 kepala keluarga dan anak sekolah setiap hari harus berjibaku melintasi jalan akses utama yang berlumpur dan penuh lubang sehingga membahayakan keselamatan mereka saat kendarai motor maupun kendaraan lainnya.

“Ini akses utama warga sekitar 400 KK. Sangat penting sekali, apalagi juga dilewati anak-anak sekolah,” ucap warga Deling, Widodo.

Awalnya jalan ini milik desa, tetapi sejak tahun 2023 berubah statusnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

“Rusaknya sudah sejak tiga tahun lalu. Dulu statusnya jalan desa, tapi sejak 2023 menjadi jalan kabupaten,” ucap Widodo, Jumat (15/1/2026).

Meski pernah tersentuh pembangunan pada tahun 2023, namun hanya sepanjang 1 kilometer sehingga masih menyisakan jalan yang rusak sekitar 3 kilometer.

Karena kondisi jalan yang semakin parah dan tidak bisa dilalui, beberapa bulan lalu warga akhirnya melakukan pengurukan dengan pedel secara swadaya hingga terkumpul dana sekitar Rp12 juta.

“Warga swadaya sekitar 12 juta, dipakai perbaikan jalan karena tidak bisa dilewati. Kita berharap ada penanganan awal atau darurat dari pemerintah," harap Widodo.

Sementara itu, Kepala DPUBMPR Kabupaten Bojonegoro, Chusaivi Ivan Rachmanto, menegaskan bahwa ruas jalan Deling - Setren direncanakan akan dibangun pada tahun 2026.

“Kita telah rencanakan di tahun 2026. Sebenarnya di tahun 2025 sudah ada penanganan, tapi dimulai dari Setren, karena di Deling juga bersamaan ada pekerjaan di ruas jalan Bareng - Ngubalan,” jelas Chusaivi Ivan kepada suarasatu.com.

Proses kegiatan pengadaan diperkirakan akan dimulai pada Februari 2026 dengan nilai anggaran sekitar Rp15 miliar.

“Pengadaan kemungkinan bulan Februari dengan nilai sekitar Rp15 miliar,” kata Chusaivi.

Perbaikan jalan Deling - Setren akan melibatkan dua skema kegiatan, yakni melalui program sektoral dan CSR karena sebagian ruas jalan berada di kawasan tanah Perhutani.

“Nanti ada dua kegiatan, sektoral dan CSR, karena sebagian masuk tanah Perhutani,” pungkas Kadis PU Bina Marga Bojonegoro. (sam)