BOJONEGORO- Suasana masih gelap, jam menunjukkan pukul setengah dua pagi. Di titik kumpul Dusun Mekukur, Mas Ulil memberikan instruksi singkat kepada sepuluh personel musik oprak.
"Ayo Cah, niat ibadah, dijaga kompaknya!" Suara Gemblak mulai dipukul dengan ritme cepat sebagai pembuka, disusul dentuman Jedor yang dalam, membuat suasana hening Desa Genjor mendadak hidup.
Gambang pun masuk menyisipkan nada-nada melodi yang membuat musik oprak ini tidak sekadar berisik, tapi enak didengar.
Sambil berjalan pelan, vokal bersama mulai menggema, "Sahur... sahur... sahur... Monggo sahur warga Genjor, warga Sugihwaras," ucap Ulil. Kamis (26/2/2026).
Suara musik semakin rancak saat melewati depan rumah warga. Ketika ada warga yang keluar rumah dan memberikan saweran, musik bertransisi halus. Irama oprak yang tadinya cepat berubah menjadi lebih syahdu saat membawakan lagu religi atau sholawatan sesuai permintaan warga.
Perjalanan berlanjut jauh, melintasi batas desa hingga antar kecamatan. Di tengah jalan yang sepi, ritme Jedor dijaga tetap konstan seperti detak jantung, memberi semangat para pemuda untuk terus melangkah dengan menumpang truk. Sesekali, nada Gambang divariasikan dengan lagu-lagu yang sedang populer agar personel tidak mengantuk. Interaksi hangat terjadi setiap kali warga melambaikan tangan atau sekadar mengintip dari balik jendela.
Menjelang waktu Imsak, saat rute sudah hampir selesai dan energi mulai terkuras, Ulil memberi aba-aba terakhir. Musik mencapai puncaknya dengan tabuhan semua alat musik secara bersamaan yang keras namun teratur.
"Matur suwun warga, monggo dipun rampungaken daharipun, sekedap malih Imsak!" Musik oprak Mekukur pun ditutup dengan satu dentuman Jedor yang mantap, menandai tugas mulia dini hari itu telah usai. (Ar)