Kisah humor Al-Maghfurlah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur selalu punya cara unik untuk menghadirkan senyum sekaligus perenungan. Salah satu fragmen menarik dicatat oleh Muhammad A.S. Hikam dalam bukunya, Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita.
Kala itu, Gus Dur menghadiri pengajian di bulan Syuro. Sang kiai yang mengisi mauidhoh menyampaikan keutamaan puasa Asyura: “Barangsiapa berpuasa satu hari, pahalanya setara dengan berpuasa satu tahun.”
Mendengar itu, Gus Dur berkelakar kepada A.S. Hikam, “Besok puasa ya, lumayan sehari seperti setahun.”
Namun, kejutan terjadi keesokan harinya. Di tengah perjalanan menuju Tuban saat waktu Zuhur tiba, Gus Dur justru mengajak berhenti untuk makan. Ketika diingatkan bahwa beliau sedang berpuasa, jawaban Gus Dur sangat santai: “Saya ambil yang setengah tahun saja. Lumayan.”
Agama Bukan Sekadar Matematika Pahala
Kisah ini tentu bukan soal mempermainkan syariat. Justru di sanalah letak kedalaman filosofi Gus Dur. Beliau sedang mengajarkan bahwa agama tidak boleh dipahami secara kaku atau sekadar hitung-hitungan matematis. Spirit ibadah jauh lebih utama daripada angka-angka keutamaan.
Jika ditarik ke dalam konteks Ramadhan, pesan ini menjadi sangat relevan. Ramadhan bukan sekadar "pasar malam" pahala di mana kita sibuk mengumpulkan poin. Ramadhan adalah madrasah rohani. Tujuan utamanya bukan sekadar ganjaran, melainkan pembentukan ketakwaan—kemampuan menahan diri dari amarah, kesombongan, dan perilaku menyakiti sesama.
Melawan Mentalitas Transaksi
Humor "puasa setengah tahun" adalah kritik halus agar kita tidak menjalani ibadah dengan mentalitas transaksi: seolah-olah setiap sujud dan lapar kita adalah kalkulasi keuntungan pribadi.
Ramadhan mengajarkan keikhlasan. Berpuasa sebulan penuh bukan demi mengejar "bonus" semata, melainkan demi:
Pembentukan Karakter: Menjadi pribadi yang lebih disiplin.
Kejernihan Hati: Membersihkan diri dari penyakit hati.
Empati Sosial: Merasakan kepedihan mereka yang kekurangan.
Momentum Akhlak Sosial di Bojonegoro
Sebagai bagian dari keluarga besar Partai Kebangkitan Bangsa yang berpijak pada nilai Ahlussunnah wal Jamaah, saya melihat Ramadhan sebagai momentum memperkuat akhlak sosial. Di daerah yang kita cintai, Bojonegoro, semangat ini sangat dibutuhkan.
Puasa seharusnya mampu meredam ego sektoral, mengedepankan musyawarah, dan mempererat tali persaudaraan. Ukuran keberhasilan puasa kita tidak dilihat dari seberapa ahli kita menghitung pahala, tetapi seberapa jauh kita bertransformasi menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.
Gus Dur mengajarkan agama dengan senyuman, namun pesannya menghunjam dalam. Ramadhan pun demikian; ia datang dengan kemuliaan besar, namun muara akhirnya adalah melahirkan manusia yang rendah hati dan penuh kasih sayang.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.