BOJONEGORO - Ketua DPRD Bojonegoro, Abdulloh Umar, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, sebagai ajang 'menyembelih' egoisme, kesombongan, hingga sifat rakus dalam diri.
Menurutnya, Idul adha bukan sekadar ritual tahunan memotong hewan kurban, melainkan sebuah ujian ketulusan untuk menempatkan kepentingan kemaslahatan bersama di atas ambisi pribadi maupun golongan.
Umar mengungkapkan, esensi sejati dari Idul Adha tercermin nyata dari kisah ketundukan total Nabi Ibrahim AS dan keikhlasan Nabi Ismail AS saat menerima perintah Allah SWT, sebagaimana yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Ash-Shaffat ayat 102 dan 106. Keteladanan abadi ini melegasikan pesan kuat bahwa keimanan yang hakiki selalu menuntut pengorbanan, dan tidak akan ada kemuliaan tanpa didasari rasa ikhlas.
Lebih dari sekadar dimensi spiritual individual, politisi PKB ini menekankan bahwa ibadah kurban memuat misi sosial yang sangat kuat untuk merajut kembali solidaritas bangsa. Pembagian daging kurban kepada kaum dhuafa dan fakir miskin menjadi simbol pemerataan kebahagiaan.
Sesuai dengan Surat Al-Hajj ayat 37, Allah SWT menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darah hewan tersebut, melainkan ketakwaan dan ketulusan hati dari orang yang berkurban. Hal ini juga dipertegas oleh Hadis Riwayat Tirmidzi mengenai besarnya keutamaan amalan menyembelih kurban di hari raya.
Di tengah dinamisnya tantangan modernitas, perubahan sosial yang cepat, serta potensi gesekan akibat perbedaan pandangan, Umar menilai gotong royong dalam proses penyembelihan hingga distribusi kurban menjadi potret nyata pentingnya kerja sama kolektif.
Menghidupkan kembali semangat menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sesama, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam HR. Ahmad adalah modal besar untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah di Indonesia.
Menutup pesannya, Ketua DPRD Bojonegoro ini mengajak masyarakat luas untuk melakukan introspeksi diri agar semangat memberi dan berkorban ini tidak padam begitu saja setelah hari raya usai, melainkan tetap membumi dalam kehidupan sehari-hari demi terwujudnya tatanan masyarakat yang harmonis, religius, dan penuh kebersamaan. Hidup, tegas Umar, bukan hanya tentang apa yang kita terima, melainkan tentang apa yang bisa kita berikan untuk kemaslahatan bersama. (hil)