BOJONEGORO - Angin sore ini di Bumi Angling Dharma terasa membawa pesan yang berbeda kali ini. Menjelang pintu Ramadan yang kian dekat, geliat kehidupan justru nampak syahdu di sudut-sudut pemakaman. Rabu (18/2/2026).

Seolah menjadi sebuah janji yang tak tertulis, warga muslim Bojonegoro berbondong-bondong datang untuk “menyapa” mereka yang telah beristirahat dalam panjangnya waktu.

​Langkah kaki yang datang silih berganti menciptakan ritme pengabdian yang indah. Di sana, nampak rombongan sanak keluarga di Dusun Banaran Desa Purwoasri Kacamatan Sukosewu bersimpuh bersama, menyatukan jemari dalam doa-doa yang melangit.

Namun, di sudut lain, ada pula jiwa-jiwa yang memilih kesunyian berdoa sendirian di samping nisan leluhurnya, membisikkan kerinduan dalam dialog personal yang begitu dalam.

Para peiarah sedang bermunajat, baca tahlil

​Ziarah ini bukan sekadar ritual tahunan. Tetapi momen penyucian hati sebelum menyambut bulan penuh berkah. Ada aroma bunga setaman yang merebak, bercampur dengan lantunan ayat suci yang menggema lirih.

Di balik gundukan tanah itu, tersimpan rasa terima kasih atas warisan nilai dan kasih sayang para pendahulu yang takkan pernah lekang oleh waktu.

​Masyarakat Bojonegoro hari ini tidak hanya bersiap dengan keriuhan dapur atau hiasan lampu, tapi juga dengan sujud syukur dan doa yang tulus bagi mereka yang telah tiada, agar sama-sama meraih kemuliaan di bulan yang suci. (Tim redaksi).